Aksi integrasi sistem saraf

Aksi  Integrasi Saraf
Saraf merupakan sistem yang berfungsi untuk mengatur berbagai fungsi organ di dalam tubuh secara terintegrasi sehingga mmungkinkan suatu makluk hidup dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan disekitarnya. Susunan saraf menerima berbagai informasi dari dalam dan dari luar tubuh, dan mengkoordinasikan semua aktifitas organ di dalam tubuh kita. Susunan saraf berfungsi untuk merencanakan dan mengkoordinasikan tingkah laku, sehingga memegang peranan dalam tingkah laku subjektif suatu makhluk hidup. Untuk menjalankan fungsi yang begitu bervariasi, susunan saraf merupakan organ yang paling awal mengalami deferensiasi pada masa embriogenesis; merupakan organ yang paling besar pada saat lahir. Selain morfologinya yang khusus, neuron dari susunan saraf merupakan struktur yang menyusun dan mengatur dirinya sendiri (self-organizing & self regulating). Sifat yang unik dari neuron ini sebagian meruapakn ekspresi yang unik dari gen, dan sebagian lagi adalah akibat perkembangan dan pengalaman individu dari setiap mahluk hidup (Siregar, 1995).
Sistem saraf tersusun dari berbagai struktur khusus yang berfungsi untuk menerima, menyimpan dan menyebarkan informasi. Dengan demikian sistem saraf mengintegrasikan afinitas sistem saraf mengintegrasikan aktivitas berbagai sel, jaringan, dan organ, sehingga memungkinkan suatu organisme multiseluler yang kompleks berfungsi sebagai satu kesatuan unit pertumbuhan, perkembanga dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Untuk memahami bagaimana proses penerimaan, penyimpanan dan penyebaran implus pada sususnan saraf, diperlukan pemahaman mengenai biolistrik yang merupakan dasar dari pengetahuan kita tentang perubahan potensial yang dihasilkan oleh pergerakan ion melalui membran sel. Komunikasi antara satu neuron dengan neuron yang lainnya atau dengan otot dan kelenjar adalah melalui proses transmisi sinaptik (Synaptic transmission). Transmisi sinaptik terjadi sinaps dimana akson dari suatu neuron (sel presinaptik) akan berhubungan dengan dendrit, akson, dari suatu neuron lainnya, atau dengan otot serta kelenjar.
Sistem saraf tersusun dari satu alat komunikasi dan integrasi untuk organisme yang dicirikan oleh cepatnya reaksi dan lokalisasi yang tepat dari tempat kerjanya. Fungsinya didasarkan atas suatu infrastruktur selular sangat sempurna, hubungan bercabang, yang menghasilkan kerja dengan kecepatan tinggi dan cepat, umumnya sistem saraf mengatur aktifitas alat-alat tubuh yang mengalami perubahan relatif cerpat; seperti pergerakan otot rangka, pergerakan otot polos pada alat pencernaan dan sekresi beberapa kelenjar. Contoh fungsi sistem saraf dalam mengatur dan mengkoordinasikan berbagai aktifitas dari fungsi tubuh adalah berhubungan sistem pencernaan dan sistem peredaran darah. Sistem pencernaan ternak tidak adaartinya jika tidak didampingi oleh sistem peredaran darah untuk menyerap dan mengedarkan berbagai zat makanan yang telah dicerna. Berbagai sistem tersebut bekerja sama tidak sembaragan. Waktu dan tempat dari satu perangkat kegiatan berhubungan erat dengan berbagai kegiatan lainnya. Beberapa kegiatan tubuh, sepertyi berjalan dan menguyah merupakan kegiatan yang disadari oleh individu hewan, sedangkan kegiatan lain pengaturan denyut jantung sekresi enzim dan gerakan pristaltik merupakan aktivitas yang tidak disadari (otonom). Semuanyan itu dikoordinasikan oleh sistem saraf sebagai jaringan khusus yang menghubungankan seluruh tubuh dan sebagian lain diatur oleh sistem hormonal yang menghubungi seluruh tubuh dan sebagian lain diatur oleh sistem hormonal sebagai sekresi kimia yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrin ke dalam peredaran darah. Jadi peran utama sistem saraf dalam kehidupan organisme adalah mengatur dan mengontrol berbagai aktivitas padfa berbagai organ dan seluruh tubuh hewan. Kontraksi otot, sekresi kelanjar, kerja ajntung, metabolisme dan masih banyak proses lain yang beroperasi dalam tubuh ternak yang dikontrol oleh sistem saraf, sistem saraf berhubungan dengan berbagai organ dan system, mengkoordinasikan semua aktivitas dan menjamin fisiologis organisme serta membantu dalam pemeliharaan kesaruan organisme dengan liungkungan (Sonjaya, 2008).
            Sel mengkhususkan diri untuk menerima dan menstramisi rangaangan disebut neuron. Neuron merupakan unit fungsional dan struktur sistem saraf pada semua hewan multisel. Sistem saraf pusat terdiri dari 100 triliun sel saraf. Neuron mempunyai struktur dan ukuran yang saama, yaitu badan sel (cell body atau soma), dan juluran-juluran sitoplasma yang disebut neurit. Neurit ini terdiri dari akson (axon) dan dendrit, Seperti yang terlihat pada gambar 10. Struktur dan fungsi neuron dalam perkembangannya akan mengalami perubahan sesuai dengan poerkembangan fungsi sensorik dan motorik makhluk hidup. Pada janin bayi baru lahir bentuk neuron masih belum sempurna. Dengan berkembangnya fungsi sensorik dan motorik, struktur dan fungsi neuron juga akan mengalami perkembangan.
            Beberapa neuron pada sususnan saraf pusat tidak mempunyai akson, sehingga potensial lokal akan disebarkan dari satu dendrit dan dendrit lainnya. Dendrit yang menjulur keluar dari badan sel berfungsi untuk menghantar implus ke badan sel, sedangkan akson yang menjulur keluar dari badan sel melalui axon hollick berfungsi untuk menghantarkan implus yang bersal dari badan sel. Bagian awal dari akson disebut segmen awal (initial segment). Pada bagian ujung akson akan bercabang-cabang dan berakhir pada bongkol sinaptik. Sinaptik knobs ini mengandung granula atau vesikel yang berdisi neurotransmister. Pada perkembangannya akason dari neuron akan diselubungi oleh selubung mielin yang berfungsi untuk mempercepat penghantaran implus. Selubung mielin ini pada susunan saraf pusat dibentuk oleh oligodenrosit, yang merupakan bagian dari sel neurolia. Pada saraf ferifer selubung miel;in dibentuk dari sel schwan. Selubung mielin ini adalah proteo-lipid yang terdiri dari kholesterol, fosfolipidI, serebrosida, asam lemak dan protein. Komposisi kimiawi selubung mielin pada susunan saraf pusat dan saraf ferifer berbeda, hal ini kemungkinan disebabkan pula oleh struktur yang menyusunnya berbeda pula. Bagian dari akson yang tidak diselubungi oleh selubung mielin disebut nodus granvier. 
            Selubung mielin mempunyai resistensi listrik yang tinggi sehingga berfungsi sebagai isolator listrik. Hanya pada nodus ranvier akfinitas listrik membran dapat terjadi, sehingga proses depolarisasi (konduksi implus) meloncat dari satu nodus  ranvier ke nodus berikutnya. Penghantaran implus seperti ini disebut penghantaran loncaqt saltatoris yaitu implus meloncat dari nodus ke nodus berikutnya baik melalui cairan ekstrasel maupun melalui sarkoplasma. Konduksi saltatoris mempunyai beberapa keuntungan yaitu kecepatan penghantaran implus meningkat dan lebih hemat energi serta oleh karena depolarisasihanya terjadi pada nodus ranvier.
Jaringan saraf dalam otak dan sum-sum tulang belakang, disamping mempunyai sel-sel penunjang yang disebut neurogia. Sel-sel ini mempunyai penjuluran sitoplasma dan sel-sel itu bersama penjuluran-penjuluran kerangka penyangga yang sangat rapat tempat neuron itu bereada. Neuroglia diperkirakan memisahkan dan mengisolasikan neuron-neuron berdekatan sehingga rangsangan dapat berjalan dari neuron ke neuron dengan melewati sinaps, yang barier neuroglianya itu tidak sempurna. Sel-sel neurogia menyusun lebih dari seperdua volume otak, jadi lebih banyak dari jumlah neuron. Sel-sel neuroglia tidak menyebarkan implus listrik seperti halnya neuron. Karakteristik elektrofisiologi neuroglia berbeda dengan neuron. Selain tidak menyebarkan aksi potensial, membran potensialnya lebih tinggi dari neuron dan tergantung terutama pada konsentrasi ion K. Selain itu, sel-sel neuroglia berhubungan satu sama lainnya melalui hubungan resistensi yang rendah sehingga memungkinkan ion atau molekul kecil masuk ke luar dari satu sel ke sel lainnya. Neuron menghantar implus ke sel neuroglia dengan membuat depolarisasi membran sel neuroglia. 
Sistem saraf tersusun dari berbagai struktur khusus yang berfungsi untuk menerima, menyimpan dan menyebarkan informasi. Dengan demikian sistem saraf mengintegrasikan aktifitas berbagai sel, jaringan dan organ, sehingga memungkinkan suatu organisme multiseluler yang kompleks berfungsi sebagai satu kesatuan unit pertumbuhan, perkembangan dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Untuk memahami bagaimana proses penerimaan, penyimpanan dan penyebaran implus pada susunan saraf, diperlukan pemahaman mengenai biolistrik yang merupakan dasar dari pengetahuan kita tentang perubahan potensial yang dihasilkan oleh pergerakan ion melalui membran sel. Sinyal yang digunakan untuk memproses dan menyebarkan informasi adalah perubahan potensial yang dihasilkan oleh arus listrik yang terjadi pada permukaan membran sel saraf atau neuron. Arus listrik tersebut terjadi akibat pergerakan ion seperti Na, K, dan Cl yang terdapat dalam cairan ekstra sel dan intrasel. Terdapat dua jenis perubahan potensial membran yang dapat terjadi pada neuron. Untuk memahami potensial istirajat dan potensial aksi, perlu kita mengetahui dasar-dasar fisika dan kimia yang mendasaari distribusi ion pada kedua sisi membran dan hubungan antara distribusi ion tersebut dengan membran potensial. Pergerakan ion melalui membran dipengaruhi oleh perbedaan muatan listrik diantara kedua sisi membran disebut sebagaiu potensial difusi.
Suatu rangsangan akan menyebabkan perubahan permeabilitas membran sel, yaitu membran menjadi permeabel terhadap ion Na sedangkan ion K akan menurun. Oleh karena kadar ion Na diluar sel lebioh besar dari pada di dalam sel, maka gradien konsentrasi mengarah ke dalam. Disamping itu keadaan pada saat ini masih berada dalam potensial keseimbangan kalium (K) sehingga gradien listrik arahnya ke dalam sel. Membran sel mengalami depolarisasi maka kenduktan ion Na, jika terjadi depolarisasi yang menyebabkan berkurangnya membran potensial, maka ini menyebabkan Na channel akan terbuka. Depolarisasi membran sel saraf akan menyebabkan konduktans membran sel untuk ion Na (gNa) akan meningkat akibat terbukanya Na channel. Konduktans membran terhadap ion Na mencerminkan permeabilitas membran terthadap ion Na. Masuknya ion Na melalui Na channel yang terbuka dan membran potensial mencapai keseimbangan potensial untuk ion. 
Bagian-Bagian dari sistem saraf adalah sistem saraf pusat yang terdiri dari cerebrum dan medula spinalis, dan sistem saraf perifer yang terdiri dari nervus cranialis dan spinalis, serta sistem saraf autonom yang terdiri dari sistem simpatis dan parasimpatis. Berdasarkan pertimbangan fungsional, susunan saraf terdiri dari komponen somatik dan otonom. Bagian dari susunan saraf yang mengatur rekasi-reaksi tubuh yang bersifat involunter,. Seperti fungsi visera atau organ-organ dalam disebut susunan saraf otonom. Dinamakan susunan saraf otonom oleh karena dalam menjalankan fungsinya susunan saraf ini pada umumnya bersifat otonom. Walaupun demikian, definisi tersebut tidak mutlak, misalnya pada refleks yang juga bersifat involunter, tetapi refleks ini tidak melibatkan tapak jalan saraf otonom. Pembagian anatomis sistem saraf terdiri dari sistem saraf pusat (central nervous system/CNS) dan sistem saraf tepi (peripheral nervous system/PNS). Sistem saraf pusat (CNS) termasuk didalamnya otak (cerebrum, cerebellum, pons, medulla oblongata) sedangkan sistem saraf tepi (PNS) Semua neuron/saraf yang tidak termasuk CNS seperti saraf yang keluar dari medulla spinalis. Dimana sistem saraf pusat (CNS) Berfungsi untuk mengintegrasi, memproses dan mengkoordinasi data sensoris dan perintah motoris sedangkan sistem saraf tepi (PNS) berfungsi menghantar informasi sensoris dan membawa perintah motoris ke jaringan/organ. Pembagian sistem saraf secara historis terdiri dari dua yaitu sel saraf (neuron) dan sel penyangga (neuroglia) (Siregar, 1995).

Proses Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan


Proses Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan
Lembaga kemasyarakatan muncul dari norma, dimana mula-mula norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja, namun lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar. Norma-norma yang ada didalam masyarakat, mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma-norma yang lemah, yang sedang sampai yang terkuat daya mengikatnya di mana yang menyangkut hal yang terakhir, anggota-anggota masyarakat pada umumnya tidak berani melanggarnya. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat daripada norma-norma tersebut, maka secara sosiologis dikenal adanya empat pengertian, yaitu :
  • Cara (usage) lebih menonjol di dalam hubungan antar individu dalam masyarakat. Suatu penyimpangan terhadapnya, tak akan mengakibatkan hukuman yang berat, akan tetapi hanya sekedar celaan dari individu yang dihubunginya. 
  • Kebiasaan (folkways) mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar daripada cara (usage). Kebiasaan yang diartikan sebagai perbuatan yang berulang-ulang dalam bentuk yang sama. Jadi kebiasaan adalah perikelakuan yang diakui dan diterima oleh masyarakat.
  • Tata-kelakuan (mores) mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar maupun tidak sadar, oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Tata kelakuan sangat penting karena memberikan batas-batas pada kelakuan-kelakuan individu, mengidentifikasi individu dengan kelompoknya, dan menjaga solidaritas antara anggota-anggota masyarakat.
  • Adat istiadat (custom) adalah tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola-pola perikelakuan masyarakat. Bila adat istiadat dilanggar, maka sanksinya berwujud suatu penderitaan bagi si pelanggar.

Dari urutan keempat pengertian itu berisi norma-norma kemasyarakatan yang memberi petunujuk tingkah laku seseorang yang hidup dalam suatu masyarakat. Setiap tingkat menunjukkan kekuatan yang lebih besar yang digunakan oleh masyarakat untuk memaksa para anggotanya supaya menaati norma-norma yang terkandung didalamnya. Dengan demikian maka kebiasaan lebih mengikat dari pada cara, tata kelakuan lebih mengikat daripada kebiasaan, sedang adat lebih mengikat lagi daripada tata kelakuan. Dengan kata lain hukuman yang diberikan oleh masyarakat terhadap pelanggaran-pelanggaran dari norma-norma itu bertambah berat menurut tingkat kedudukan norma masing-masing (Soerjono Soekanto,1990).

Lembaga kemasyarakatan terbentuk melalui proses disebut sebagai lembaga institusional, atau kelembagaan nilai-nilai yang dibentuk untuk membantu hubungan antar manusia di dalam masyarakat.  Nilai-nilai yang     mengatur tersebut dikenal dengan istilah norma yang mempunyai kekuatan    mengikat dengan kekuatan yang berbedabeda. Norma-norma tersebut dapat dibedakan seperti berikut: cara (ussage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan , dan adat istiadat( http://desacilampeni.blogspot.com).

Baca juga lanjutan dari artikel ini :  Jenis Dan Fungsi Lembaga Kemasyarakatan

Jenis Dan Fungsi Lembaga Kemasyarakatan


A. Jenis-jenis Lembaga Kemasyarakatan
Menurut (Yuliati dkk, 2003) jenis-jenis lembaga pemasyarakatan dibagi atas berbagai tipe sesuai dengan berbagai sudut pengamatan yaitu :
  • Dari sudut perkembangannya kelembagaan terdiri dari Criscive Institution and Enacted Institution. Yang pertama merupakan lembaga yang tumbuh dari kebiasaan masyarakat.  Sementara yang kedua dilahirkan dengan sengaja untuk memenuhi kebutuhan  manusia.
  • Dari sudut sistem nilai kelembagaan masyarakat dibagi menjadi dua yakni Basic institution and Subsidiary Institution. Yang pertama merupakan lembaga yang memegang peranan penting dalam mempertahankan tata tertib masyarakat sementara yang kedua kurang penting karena hanya jadi pelengkap.
  • Dari sudut penerimaan masyarakat, terdiri dari dua yaitu Sanctioned Institution and unsanctioned Institution.  Yang pertama merupakan kelompok yang dikehendaki seperti sekolah dll, sementara yang kedua ditolak meski kehadirannya akan selalu ada.  Lembaga ini berupa pesantren sekolah, lembaga ekonomi lain dan juga lembaga kejahatan.
  • Dari sudut faktor penyebabnya dibedakan atas General institutional and Restriktic Institutional. Yang pertama merupakan organisasi yang umum dan dikenal seluruh masyarakat contoh agama, sementara yang kedua merupakan bagian dari institusi yakni Islam, Kristen, dan agama lainnya. 
  • Dari sudut fungsinya dibedakan atas dua yaitu Operatif Institutional and regulatif Institutional.  Yang pertama berfungsi untuk mencapai tujuan, sementara yang kedua untuk mengawasi tata kelakuan nilai yang ada di masyarakat(Yuliati dkk, 2003).
B. Fungsi Lembaga Kemasyarakatan
Pada dasarnya lembaga kemasyarakatan mempunyai beberapa fungsi antara lain:
  • Memberikan pedoman bagi anggota masyarakat, bagai mana mereka harus bertingkah laku atau bersikap didalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat terutama yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan.
  • Menjaga keutuhan masyarakat.
  • Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial(social control). Artinya, sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.
Fungsi-fungsi diatas menyatakan bahwa apabila seseorang hendak mempelajari kebudayaan dan masyarakat tertentu maka harus pula diperhatikan secara teliti lembaga-lembaga kemasyarakatan di masyarakat yang bersangkutan.(soerjono soekanto,1990)

Lembaga kemasyarakatan berfungsi sebagai pedoman perilaku atau sikap tindak manusia dan merupakan salah satu sarana untuk memelihara dan mengembangkan integrasi di dalam masyarakat.  Namun demikian, tidak semua norma di dalam masyarakat dengan sendirinya menjadi bagian dari suatu lembaga sosial tertentu.   Hal ini tergantung pada proses pelembagaan dari norma-norma tersebut sehingga menjadi bagian dari suatu lembaga sosial tertentu ( Soekanto dan Taneko, 1984).

Literatur yang saya diambil dari (http://sosiologi-era.blogspot.com) menyatakan bwahwa Fungsi lembaga kemasyarakatan:
  • Memberi pedoman kepada anggota masyarakat bagaimana mereka harus bersikap dalam menghadapi masalah dalam masyarakat.
  • Menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan.
  • Memberi pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control) dan sistem pengawasan masyarakat terhadap perilaku anggotanya(http://sosiologi-era.blogspot.com)

Semua Tentang Lebah Madu

Semua Tentang Lebah Madu
Mengenal Lebah Madu
Lebah Madu
Jenis - Jenis Lebah Madu
Lebah madu termasuk golongan serangga berdarah dingin, sehingga dalam aktivitas kehidupan di pengaruhi perubahan suhu sekitarnya. Pada suhu 33oC-34oC merupakan suhu optimal bagi lebah dalam melakukan kegiatannya. Di Indonesia, temperatur rata-rata 26oC, sehingga belum mengganggu kehidupan lebah. Lebah madu termasuk kelas Insektisida dan family Apidea. (Samadi, 2003).

Lebah madu adalah hewan yang masuk dalam kelas Insekta famili Apini dan genus Apis. Spesiesnya bermacam-macam, yang banyak terdapat di Indonesia adalah Apis cerana, Apis dorsata, Apis florea. Jenis unggul yang sering dibudidayakan adalah jenis Apis mellifera (Apiari Pramuka, 2003) :
  1. Apis Cerana atau Apis Indica merupakan lebah madu asli Asia yang menyebar dari Afganistan, Cina sampai Jepang dan sudah berabad-abad diternak di wilayah Asia. Di Indonesia Apis indica lebih dikenal dengan nama lebah lalat. Lebah ini dapat diternakkan secara sederhana dengan glodok atau secara modern dalam stup (kotak lebah). Lebah liar dari jenis ini bersarang di celah-celah batu atau gua. Ciri khas lebah madu ini adalah jinak dan gampang diternakkan dalam stup dan tidak suka gerakan kasar. Kalau tidak dalam keadaan terjepit, lebah ini tidak akan menyengat. Lebah yang menyengat akan segera mati karena sengatnya tertinggal. Lebah ini cukup produktif, sehingga banyak dipelihara masyarakat desa sekitar hutan secara tradisional dengan menggunakan glodok dari batang kelapa atau batang randu. Hasilnya adalah madu dan larva lebah yang dikonsumsi sebagai lauk pauk.
  2. Apis dorsata, lebah yang hidup di hutan lebat sebagai lebah madu liar dan belum pernah berhasil diternakkan dalam stup. Sarangnya terletak di dalam hutan, alam terbuka dan terlindungi dari hujan dan sengatan sinar matahari. Indonesia menyebutnya lebah hutan atau lebah raksasa. Lebah raksasa ini merupakan lebah madu yang paling produktif dan penghasil malam lebah terbanyak. Madunya lebih encer daripada madu lebah biasa. Kalau terganggu, lebah ini akan menyerang musuhnya secara berkawan. Sifatnya liar dan galak. Satu koloni hanya terdiri dari sebuah sisir yang sangat besat ukurannya, hasil madunya bisa mencapai 20 kg.
  3. Apis florae, lebah ini mengumpulkan madu selalu pada pagi hari. Jenis lebah ini termasuk lebah madu dari marga Apis yang paling kecil ukurannya diantara spesies lebah madu lainnya. Habitat hidupnya di daerah payau.  Koloninya membuat sarang sebesar telapak tangan yang menggantung di cabang-cabang pohon. Hasil madu dan malamnya sedikit. Lebah madu ini berfungsi sebagai penyerbuk bunga-bunga kecil.
  4. Apis mellifera, lebah madu ini aslinya berasal dari daerah subtropis, yaitu benua Eropa. Ciri khas lebah madu Eropa ini adalah memiliki gelang berwarna kekuningan di belakang abdomen (rongga perut yang berisi alat pencernaan) dan mempunyai perisai di antara sayapnya. Warna tubuh bervariasi dari cokelat gelap sampai kuning hitam. Sifatnya sabar dan selalu menjaga sarangnya agar tetap bersih. Lebah madu Eropa ini sudah lama dijinakkan dan dibudidayakan orang. Di daerah beriklim dingin, lebah ini tidak terlalu agresif dan kurang suka bermigrasi, tetapi peka terhadap penyakit. Produktivitas madunya tinggi sehingga banyak yang beternak lebah madu Apis mellifera.
Dari keempat jenis lebah penghasil madu, lebah jenis Apis mellifera yang paling populer. Lebah jenis ini merupakan lebah madu yang paling utama yang paling banyak dan paling mudah untuk dibudidayakan selain jinak juga sangat potensial dan produktif menghasilkan berbagai jenis produk perlebahan seperti madu, royal jelly, propolis, bee pollen dan sebagainya (Susilorini. dkk, 2008).

Ada beberapa produk yang dihasilkan dari beternak lebah madu antara lain (Rusfidra, 2008) :
  • Madu
    Madu sebagai produk utama berasal dari nektar bunga merupakan makanan yang sangat berguna bagi pemeliharaan kesehatan, kosmetika dan farmasi, meningkatkan daya tahan tubuh, menyembuhkan darah tinggi dan darah rendah, mengobati rematik,  memperlancar fungsi otak,  menyembuhkan luka bakar.
  • Lilin Lebah (malam)
    Lilin merupakan produk lebah yang dihasilkan oleh kelenjar lilin yang terdapat pada perut bagian bawah lebah madu. Lilin lebah bermanfaat sebagai bahan baku dalam industri batik, kosmetik dan industri farmasi. Selain itu lilin lebah juga dapat digunakan dalam pembuatan lilin, dalam industri perlebahan, pembuatan krim, losion (cairan pembersih), pomade, lipstik dan pelapis pil.
  • Polen (Tepung Sari)
    Polen merupakan alat jantan reproduktif tanaman yang berprotein tinggi dan berguna untuk membentuk, pertumbuhan dan perbaikan sel-sel yang rusak. dimanfaatkan untuk campuran bahan obat-obatan/kepentingan farmasi.
  • Propolis
    Propolis bermanfaat dalam industri kedokteran/ untuk penyembuh luka, pemyakit kulit dan membunuh virus influenza. 
  • Royal Jelli
    Royal jelli dihasilkan oleh kelenjer hypofarink lebah pekerja yang berumur tiga hari untuk konsumsi lebah ratu dan larva lebah. Royal jelli dimanfaatkan untuk stamina dan penyembuhan penyakit, sebagai bahan campuran kosmetika, bahan campuran obat-obatan.
Menurut Apiari Pramuka (2003), lokasi peternakan lebah madu yang dipilih sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan berikut ini :
  1. Kaya akan tanaman pakan lebah yang mengandung nektar dan pollen dengan jarak terjauh 1-2 km.
  2. Terdapat sumber air bersih
  3. Tidak ada angin kencang
  4. Terhindar dari populasi udara dan suara serta jauh dari keramaian
  5. Ketinggian tempat antara 200-1.000 m diatas permukaan laut dengan suhu 20-30o C.
  6. Lokasi mudah dijangkau dengan kendaraan.

Dalam beternak lebah madu, ada beberapa pedoman teknis budidaya yang perlu dipersiapkan yaitu (Anonima, 2010) :
  1. Penyiapan Sarana dan Prasarana
    a. Suhu
    Perubahan suhu dalam stup hendaknya tidak terlalu cepat, oleh karena itu ketebalan dinding perlu diperhatikan untuk menjaga agar suhu dalam stup tetap stabil. Yang umum digunakan adalah kayu empuk setebal 2,5 cm.
        - Ketahanan Terhadap Iklim
    Bahan yang dipakai harus tahan terhadap pengaruh hujan, panas, cuaca yang selalu berubah, kokoh dan tidak mudah hancur atau rusak.
        - Konstruksi
    Konstruksi kandang tradisional dengan menggunakan gelodok dari bambu, secara modern menggunakan stup kotak yang lengkap dengan framenya.
    b. Peralatan
         - Kotak lebah, tempat koloni lebah madu terbuat dari kayu Suren atau Mahoni
         - Alat pengasap untuk menjinakan lebah madu yang agresif
         - Masker pelindung serangan lebah madu
         - Pengungkit sisiran
       - Sikat sisiran lebah madu, sisiran yang terbuat dari rangka kayu dan ditengahnya diberi kawat sebagai penahan landasan sarang lebah madu
        - Pollen Trap untuk panen Bee Pollen
        - Frame royal jelly untuk panen royal jelly dan membuat calon ratu lebah
        - Extraktor untuk panen Madu
        - Penggembalaan Lebah Madu
  2. Pembibitan
    a. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
    Ratu lebah merupakan inti dari pembentukan koloni lebah, oleh karena itu pemilihan jenis unggul ini bertujuan agar dalam satu koloni lebah dapat produksi maksimal.  Ratu Apis mellifera mampu bertelur 1500 butir per hari.

    b. Perawatan bibit unggul dan calon induk
    Lebah yang baru dibeli dirawat khusus. Satu hari setelah dibeli, ratu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam stup yang telah disiapkan. Selama 6 hari lebah-lebah tersebut tidak dapat diganggu karena masih pada masa adaptasi sehingga lebih peka terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Setelah itu baru dapat dilaksanakan untuk perawatan dan pemeliharaan rutin.
  3. Sistem Pemuliabiakan
    Pemuliabiakan pada lebah adalah menciptakan ratu baru sebagai upaya pengembangan koloni. Cara yang sudah umum dilaksanakan adalah dengan pembuatan mangkokan buatan untuk calon ratu yang diletakkan dalam sisiran. Tetapi sekarang ini sudah dikembangkan inseminasi buatan pada ratu lebah untuk mendapatkan calon ratu dan lebah pekerja unggul.

    Lebih lanjut Widiyastuti (1998), menyatakan bahwa pada sistem pemuliabiakan pada lebah dikenal dengan istilah inseminasi buatan (IB) yang mana digunakan untuk menghasilkan bibit unggul atau ratu lebah yang unggul. Caranya yaitu semen diambil dari imago jantan yang berumur 12-25 hari dari lahir. Jantan dirangsang pada bagian kepala, kemudian bagian abdomennya ditekan sehingga keluar gelembung mukus yang berwarna putih diatas penis. Diatas gelembung mukus terdapat semen yang berwarna coklat muda. Peralatan untuk mengambil semen disterilkan terlebih dahulu. Larutan garam fisiologis dimasukkan ke dalam syringe kemudian dibuat gelembung udara sepanjang 4-5 mm untuk memberi jarak antara larutan fisiologis dan semen. Semen yang digunakan untuk menginseminasi satu ekor ratu lebah sepanjang 12 mm pada syringe. Setelah semen dimasukkan, diberi jarak antara gelembung udara dan selanjutnya dimasukkan larutan garam fisiologis paa ujung syringe. Peralatan yang digunkan yaitu mikroskop, tabung reaksi, lampu mikroskop, dll.
  4. Reproduksi dan Perkawinan
    Dalam setiap koloni terdapat tiga jenis lebah masing-masing lebah ratu, lebah pekerja dan lebah jantan. Alat reproduksi lebah pekerja berupa kelamin betina yang tidak berkembang sehingga tidak berfungsi, sedangkan alat reproduksi lebah ratu berkembang sempurna dan berfungsi untuk reproduksi.

    Proses Perkawinan terjadi diawali musim bunga. Ratu lebah terbang keluar sarang diikuti oleh semua pejantan yang akan mengawininya. Perkawinan terjadi di udara, setelah perkawinan pejantan akan mati dan sperma akan disimpan dalam spermatheca (kantung sperma) yang terdapat pada ratu lebah kemudian ratu kembali ke sarang. Selama perkawinan lebah pekerja menyiapkan sarang untuk ratu bertelur.
  5. Proses Penetasan
    Setelah kawin, lebah ratu akan mengelilingi sarang untuk mencari sel-sel yang masih kosong dalam sisiran. Sebutir telur diletakkan di dasar sel. Tabung sel yang telah yang berisi telur akan diisi madu dan tepung sari oleh lebah pekerja dan setelah penuh akan ditutup lapisan tipis yang nantinya dapat ditembus oleh penghuni dewasa. Untuk mengeluarkan sebutir telur diperlukan waktu sekitar 0,5 menit, setelah mengeluarkan 30 butir telur, ratu akan istirahat 6 detik untuk makan.
  6. Pemeliharaan
    - Sanitasi, Tindakan Preventif, dan Perawatan
    Pada pengelolaan lebah secara modern lebah ditempatkan pada kandang berupa kotak yang biasa disebut stup. Di dalam stup terdapat ruang untuk beberapa frame atau sisiran. Dengan sistem ini peternak dapat harus rajin memeriksa, menjaga dan membersihkan bagian-bagian stup seperti membersihkan dasar stup dari kotoran yang ada, mencegah semut/serangga masuk dengan memberi tatakan air di kaki stup dan mencegah masuknya binatang pengganggu.
    - Pemberian Pakan
    Cara pemberian pakan lebah adalah dengan menggembala lebah ke tempat di mana banyak bunga (nektar, polen dan royal jelli) . Jadi disesuaikan dengan musim bunga yang ada.

    Dalam penggembalaan yang perlu diperhatikan adalah :
        - Perpindahan lokasi dilakukan malam hari saat lebah tidak aktif.
        - Bila jarak jauh perlu makanan tambahan (buatan).
        - Jarak antar lokasi penggembalaan minimum 3 km.
        - Luas areal, jenis tanaman yang berbunga dan waktu musim bunga.
    Tujuan utama dari penggembalaan ini adalah untuk menjaga kesinambungan produksi agar tidak menurun secara drastis. Pemberian pakan tambahan di luar pakan pokok bertujuan untuk mengatasi kekurangan pakan akibat musim paceklik/saat melakukan pemindahan stup saat penggeembalaan. Pakan tambahan tidak dapat meningkatkan produksi, tetapi hanya berfungsi untuk mempertahankan kehidupan lebah. Pakan tambahan dapat dibuat dari bahan gula dan air dengan perbandingan 1:1 dan adonan tepung dari campuran bahan ragi, tepung kedelai dan susu kering dengan perbandingan 1:3:1 ditambah madu secukupnya.
Hama dan Penyakit
Menurut Sarwono (2003), menyatakan bahwa ada 5 jenis hama yang dapat merugikan peternakan lebah madu yaitu :
1. Semut
Kehadiran semut di sarang lebah madu dapat merugikan produksi karena serangga itu memakan madu, tempayak, lili, dan sisa-sisa pakan lebah. Gannguan semut itu dapat dicegah dengan menjaga kebersihan papan dasar kandang atau kotak lebah, mengulas kaki meja tempat kotak lebah dengan vaselin atau meletakkan kaki itu ke dalam kaleng berisi air.
2. Ngengat Lilin
Ngengat lilin (Galleria mellonella) sangat membahayakan koloni lebah yang masih kecil. Serangga ini bertelur di dalam sarang lebah. Hama ini juga merusak simpanan lilin di dalam gudang. Gangguan hama ini dapat dicegah dengan memeriksa secara rutin keadaan sarang lebah dan sarang lebah madu yang terserang hama ini harus dipotong dan dibakar agar musnah hamanya.
3. Cicak
Gangguan cicak dapat membuat lebah madu menjadi liar. Kadang-kadang cicak suka menangkap lebah madu untuk dimakan. Hama cicak ini dapat dicegah dengan penjagaan yang baik terhadap kotak sarang agar jangan sampai masuk ke dalamnya.
4. Lipas/ Kecoa
Gangguan Lipas/ kecoa dapat mebuat lebah menjadi liar dan merusak lilin dalam sarang. Hama ini dapat diatasi dengan penjagaan yang baik terhadap kotak lebah, agar jangan sampai hama itu masuk ke dalamnya.
5. Tabuhan 
Tabuhan atau tawon endas (Vespa sp.) sangat berbahaya untuk peternakan lebah madu karena ia suka merampok lebah yang membawa madu setelah sampai di muka kotak sarang. Gangguan ini dapat diatasi dengan menangkap tabuhan yang berada di sekitar kotak atau membakar sarang tabuhan yang berada disekitar pemeliharaan lebah.
6. Burung Pemangsa Serangga
Burung pemangsa serangga, seperti wallet gemar menangkap lebah yang sedang terbang. Untuk mengatasi serangan burung ini, sebaiknya tempat peternakan lebah jauh dari rumah walet/ habitat sesama burung pemangsa serangga. 

Lebih lanjut Sarwono (2003),  menjeleskan bahwa penyakit yang merugikan peternakan lebah madu yaitu disentri yang sering terjadi pada saat cuaca dingin dan banyak hujan, gangguan penyakit ini dapat dihindari dengan pemberian pakan yang baik serta menjaga kebersihan kotak serta lingkungan. Dan ada pula penyakit eraman batu, tempayak yang diserang menjadi keras seperti batu yang penyebabnya jamur Aspergillus flavus dan pembasmiannya dengan uap formaldehida yang disemprotkan ke dalam sarang. Lalu penyakit lainnya adalah eraman kantung, tempayak yang terserang penyakit ini tampak menggelembung seperti kantung yang penuh terisi air dan penyebab penyakit ini yaitu virus yang belum diketahui namanya serta penyakit yang timbul akan hilang dengan sendirinya asalkan sarang lebah bersih dan kering.

Panen.

Hasil utama dari peternakan lebah madu ini adalah madu merupakan hasil utama dari lebah yang begitu banyak manfaatnya dan bernilai ekonomi tinggi. Dan hasil tambahan yang punya nilai dan manfaat adalah royal jelly (susu ratu), pollen (tepungsari), lilin lebah (malam) dan propolis (perekat lebah).

Pengambilan madu panen madu dilaksanakan pada 1-2 minggu setelah musim bunga. Ciri-ciri madu siap dipanen adalah sisiran telah tertutup oleh lapisan lilin tipis. Sisiran yang akan dipanen dibersihkan dulu dari lebah yang masih menempel kemudian lapisan penutup sisiran dikupas. Setelah itu sisiran diekstraksi untuk diambil madunya.Urutan proses panen yaitu pertama-tama mengambil dan mencuci sisiran yang siap panen, lapisan penutup dikupas dengan pisau, sisiran yang telah dikupas diekstraksi dalam ekstraktor madu, hasil disaring dan dilakukan penyortiran, disimpan dalam suhu kamar untuk menghilangkan gelembung udara, dan terakhir pengemasan madu dalam botol (Anonimb, 2010).

Bahan Pakan Nonkonvensional

Bahan Pakan Nonkonvensional
Bahan Pakan Nonkonvensional dapat diklasifikasikan berbeda-beda, namun Nityanand Pathak (1997) dalam teksbook of feeding processing technology mengklasifikasikan sebagai berikut:
·         Konsentrat inkonvensional
·         Hijauan inkonvensional
Klasifikasi ini berdasarkan pada umumnya. bahan pakan konsentrat merupakan bahan makanan ternak non hijauan dengan serat kasar maksimal 18%dari bahan kering.

Jerami
Jerami tidak asing lagi bagi petani peternak di Indonesia. Hal ini karena ketersediaannya cukup melimpah terutama saat panen raya padi tiba. Jerami tersebut dimanfaatkan sebagai campuran atau makanan ternak jika persediaan hijauan segar tidak mencukupi kebutuhan konsumsi ternak. Kendala keterbatasan jerami sebagai pakan adalah minimnya kandungan nutrisi limbah pertanian tersebut. Jerami umumnya mengandung energi neto yang rendah per satuan berat. Kadar seratnya tinggi, yaitu dalam keadaan kering mengandung serat kasar lebih dari 10%. Sehingga nilai hayati jerami padi sangat rendah. Daya cernanya sekitar 40%, jumlah konsumsinya di bawah 2% bobot badan ternak, dan kadar proteinnya 3%--5%.

Rendahnya tingkat kecernaan jerami padi karena ikatan yang terjadi pada jerami padi (selulosa dan hemiselulosa) ini sulit dipecah mikroba rumen. Sehingga, jerami yang dikonsumsi ini pun sulit dicerna dan banyak yang tidak dimanfaatkan pencernaan ruminansia. Dengan melihat komposisi zat nutrisi jerami yang tergolong marginal itu, untuk mencapai hasil optimal dalam penggemukan ternak ruminansia, perlu juga ditambahkan makanan penguat (konsentrat). Jerami padi sangat potensial dihasilkan petani. Dari inventarisasi limbah pertanian Jawa dan Bali, diperoleh hasil produksi limbah pertanian rata-rata 28,7 juta ton/tahun, dan 67,2% berupa jerami padi. Khususnya pada musim kemarau, jerami dapat didayagunakan untuk mengatasi fluktuasi persediaan pakan. Jerami padi merupakan salah satu sumber pakan hijauan amat penting. Kondisi ini terlihat nyata terutama pada daerah-daerah rawan kekeringan seperti di Kabupaten Grobogan, Blora, Rembang, Wonogiri, dan lain-lain.

Perbaikan nilai gizi bisa dilakukan melalui pengolahan limbah pertanian secara fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Salah satu di antaranya untuk meningkatkan mutu jerami padi dengan menginovasi teknologi berupa amoniasi jerami. Prinsipnya, memperlakukan khusus jerami dengan metode pengolahan menggunakan amonia (NH3).

Fungsi amonia di sini untuk menghancurkan ikatan lignin, selulosa, dan silika yang merupakan faktor penghambat utama daya cerna jerami. Di samping itu, juga amonia berperan memuaikan serat selulosa, memudahkan penetrasi enzim selulosa dan mengangkat kandungan protein kasar melalui peresapan nitrogen. Harapannya, dengan adanya jerami amoniasi, petani peternak dapat meningkatkan pemanfaatan jerami hasil limbah pertanian sebagai pakan ternak untuk menunjang tingkat produktivitas ternak.

Arti dan Fungsi Manajemen Pemasaran


A.    Arti  dan Fungsi Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran adalah suatu usaha untuk merencanakan, mengimplementasikan (yang terdiri dari kegiatan mengorganisaikan, mengarahkan, mengkoordinir) serta mengawasi atau mengendalikan kegiatan pemasaran dalam suatu organisasi agar tercapai tujuan organisasi secara efesien dan efektif. Di dalam fungsi manajemen pemasaran ada kegiatan menganalisis yaitu analisis yang dilakukan untuk mengetahui pasar dan lingkungan pemasarannya, sehingga dapat diperoleh seberapa besar peluang untuk merebut pasar dan seberapa besar ancaman yang harus dihadapi.
Gambar 1. Fungsi Manajemen Pemasaran Penjelasan fungsi pemasaran yang merupakan kegiatan terpadu dan saling mendukung, antara lain :
B.     Perencanaan pemasaran
Penentuan segala sesuatu sebelum dilakukan kegiatan-kegiatan pemasaran
meliputi :
·         Tujuan
·         Strategi
·         kebijaksanaan
·         taktik yang dijalankan.
C.    Tujuan
Meniadakan ketidakpastian masa datang bila ada perubahan- perubahan karena situasi dan kondisi perusahaan maupun diluar perusahaan maupun diluar perusahaan tidak menentu. Karena tujuan organisasi sudah difokuskan maka dengan perencanaan akan menghindari adanya penyimpangan tujuan.
Reancana walaupun mahal tetapi ekonomis karena segala kegiatan telah terfokuskan dengan segala biaya- biayanya. Rencana pemasaran terinci diperlukan untuk setiap bisnis, produk atau merk. Sebagai syarat minimal perencanaan harus berisi bagian-bagian sebagai berikut :
Bagian Tujuan
1.      Ringkasan bagi ekskutif : Menyajikan pandangan singkat atas
rencana yang diusulkan agar dapat ditinjau dengan cepat oleh manajemen.
2.      Situasi pemasaran saat ini Menyajiakan data latar belakang yang
relevan mengenai pasar, produk, persaingan dan distribusi.
3.      Analisis ancaman dan peluang Mengidentifikasi ancaman dan peluang utama yang mungkin mempengaruhi produk.
4.      Sasaran dan isu Menentukan sasaran perusahaan untuk produk di bidang penjualan, pangsa pasar, laba serta isu yang akan mempengaruhi sasaran ini.
5.      Strategi pemasaran Menyajikan pendekatan pemasaran yang luas, yang akan digunakan untuk mencap[ai sasaran dalam rencana.
6.      Program tindakan Menspesifikasikan apa yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukannya, kapan dan berapa biayanya.
7.      Anggaran Laboran laba dan rugi yang diproyeksikan yang meramalkan hasil keuangan yang diharapkan dari rencana tadi.
8.      Pengendalian Menunjukkan bagaimana kemajuan rencana akan dipantau.
D.    Implementasi pemasaran
Proses yang mengubah strategi dan rencana pemasaran menjadi tindakan pemasaran untuk mencapai sasaran. Implementasi mencakup aktivitas sehari-hari, dari bulan ke bulan yang secara efektif melalsanakan rencana pemasaran. Kegiatan ini dibutuhkan program tindakan yang menarik semua orang atau semua aktivitas serta struktur organisasi formal yang dapat memainkan peranan penting dalam mengimplementasikan strategi pemasaran.
Implementasi yang sukses tergantung dari beberapa kegiatan kunci yaitu:
Pengorganisasian kegiatan pemasaran, yaitu Proses menciptakan hubungan antara fungís personalia dan factor fisik (sarana ), agar kegiatan pemasaran yang harus dilaksanakan bisa mancapai tujuan yang benar, meliputi pembagian kerja, wewenang, tanggung jawab dan pelaporan kerja.
Tujuan : setiap orang di dalam organisasi bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan pemasaran yang telah dibebankan kepadanya sehingga tidak overlapping pekerjaan.
Bentuk umum dalam departemen pemasaran yang modern, antara lain :
organisasi fungsional dimana berbagai aktivitas pemasaran yang berbeda dikepalai oleh spesialis fungsional : manajemen penjualan, periklanan, riset pemasaran, pelayanan terhadap pelanggan, manajemen produk baru.
Organisasi geografik, dimana karyawan bagian penjualan dan pemasaran diberi tugas di negara, wilayah atau distrik tertentu. Organisasi manajemen produk, karyawan inin mengembangkan pemasaran dan strategi lengkap untuk produk atau merk tertentu, bila perusahaan ini mempunyai banyak produk atau merk yang amat berbeda.
Bila firm yang menjual satu lini produk kepada banyak tipe pasar berbeda yang mempunyai organisasi manajemen pasar. Manajer ini bertanggung jawab untuk mengembangkan rencana jangka panjang dan tahunan untuk keunggulan utama dari sistem ini adalah bahwa perusahaan diorganisasikan disekitar kebutuhan spesifik segmen pelanggan.
Pengarahan kegiatan pemasaran, yaitu Usaha yang berhubungan dengan segala sesuatu kegiatan pemasaran agar semuanya itu dapat dilakukan dengan baik, meliputi Pemberian perintah secara baik, harus ada follow up-nya, secara senderhana, perlu penjelasan sehingga ada pengertian dan sifatnya harus konsultatif.
·         Motivasi
·         Kepemimpinan
Dengan pengarahan segala kegiatan yang menyimpang akan terdeteksi dan pimpinan dapat memberikan motivasi untuk menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapan serta agar terjadi harmonisasi antar anggota organisasi / firm.
Pengkoordinasian kegiatan pemasaran, yaitu  Usaha meng-sinkronkan dan menyatukan segala kegiatan pemasaran dalam organisasi agar tercapai tujuan yang efektif dan efesien. Cara- cara menjalankan koordinasi yang efektif, dengan berbagai cara, yaitu :
1.      Diadakan prosedur yang terang dan jelas dan ditentukan tanggal penyelesaian ( deadline )
2.      Koordinasi dilakukan secara formal melalui pimpinan staff pembantu, penitia maupun pejabat penghubung tetap dilakukan kontak tidak formal.
Pengendalian / Evaluasi kegiatan pemasaran, yaitu  Usaha memberikan petunjuk pada para pelaksana agar mereka selalu bertindak sesuai dengan rencana, meliputi :
·        Penentuan Standard
·        Supervisi kegiatan atau pemeriksaan
·        Perbandingan hasil dengan Standard
·        Kegiatan mengkoreksi Standard
·        Menetapkan Mengukur Mengevaluasi Mengambil
·        sasaran kinerja kinerja tindakan perbaikan
Kegiatan pengendalian / evaluasi diatas dapat dikelompokkan dua macam :
1.      Pengendalian operacional termasuk memeriksa kinerja yang sedang berlangsung terhadap rencana tahunan dan mengambil tindakan perbaikan kalau perlu.
Tujuannya adalah memastikan bahwa perusahaan mencapai penjualan, laba, dan sasaran lain yang ditetapkan dalam rencana tahunannya. Kegiatan ini juga mencakup penentuan produk, wilayah, pasar dan saluran yang berbeda yang dapat mendatangkan laba.
2.      Pengendalian strategik meliputi pengamatan apakah strategi dasar perusahaan sesuai dengan peluang yang terbuka. Strategi dan program pemasaran dapat ketinggalan zaman dalam waktu singkat dan setiap perusahaan harus secara periodik menilai ulang pendekatan terhadap pasar secara keseluruhan

Limbah Sawit (Solid) Pakan Nonkonvensional


Limbah Sawit (Solid) Pakan Nonkonvensional
Pemeliharaan ternak (sapi) sebagai usaha sambilan kurang menguntungkan apabila memanfaatkan solid sebagai pakan karena akan menambah biaya produksi, berupa biaya angkut dari pabrik ke lokasi peternak. Kondisi ini dapat menghambat adopsi teknologi pemanfaatan solid. Solid akan dimanfaatkan secara luas oleh peternak apabila pemeliharaan ternak bersifat komersial misalnya penggemukan. Strategi yang dapat ditempuh untuk memaksimumkan pemanfaatan solid sebagai pakan adalah melalui kemitraan antara petani dan pemerintah daerah ataupun pihak swasta. Solid merupakan salah satu limbah padat dari hasil pengolahan minyak sawit kasar.  

Di Sumatera, limbah ini dikenal sebagai lumpur sawit, namun solid biasanya sudah dipisahkan dengan cairannya sehingga merupakan limbah padat. Ada dua macam limbah yang dihasilkan pada produksi CPO, yaitu limbah padat dan limbah cair. Saat sekarang ini produksi limbah solid di dua pabrik pengolahan CPO di Kabupaten Kotawaringin Barat sekitar 36−42 t/hari (rata-rata 20 t/pabrik/hari). Jumlah limbah solid yang dihasilkan bergantung pada TBS yang diolah. Produksi TBS akan makin bertambah pada masa mendatang seiring dengan makin luasnya area perkebunan kelapa sawit yang berproduksi. Diharapkan dalam setiap 10.000 ha berdiri satu pabrik  pengolahan CPO.

Industri kelapa sawit menghasilkan limbah yang berpotensi sebagai pakan ternak, seperti bungkil inti sawit, serat perasan buah, tandan buah kosong, dan solid . Bungkil inti sawit mempunyai nilai nutrisi yang lebih tinggi dibanding limbah lainnya dengan kandungan protein kasar 15% dan energi kasar 4.230 kkal/kg sehingga dapat berperan sebagai pakan penguat (konsentrat). Namun, bungkil inti sawit di Kalimantan Tengah merupakan komoditas ekspor yang harganya relative mahal sehingga bukan merupakan limbah, dan akan menjadi bahan pakan yang mahal bila diberikan pada ternak. Serat perasan buah dan tandan buah kosong bersama-sama dengan cangkang biasanya dibakar dijadikan abu untuk dimanfaatkanm sebagai pupuk sumber kalium. 

Perluasan kebun kelapa sawit di Kalimantan Tengah ditargetkan mencapai area 1.557.752 ha. Apabila tanaman kelapa sawit sudah berproduksi semua, dan setiap 10.000 ha terdapat satu pabrik, maka dalam kebun seluas itu akan terdapat 155 pabrik pengolahan kelapa sawit. Apabila tiap pabrik rata-rata menghasilkan solid 20 t/hari maka setiap hari akan diperoleh 3.100 ton solid. Apabila seekor sapi dapat mengkonsumsi solid + 20 kg/hari (jumlah yang biasa diberikan peternak pada sapi dengan rata-rata bobot badan 250 kg), maka produksi limbah tersebut akan dapat mencukupi kebutuhan pakan bagi + 155.000 ekor sapi/ hari. Dengan demikian, keberadaan perkebunan kelapa sawit sangat menpengembangan peternakan baik dalam skala menengah maupun besar. Apalagi saat ini perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah berkembang cukup pesat dengan target area 1.557.752 ha yang tersebar di Kabupaten Kotawaringin Barat 644.845 ha, Kotawaringin Timur 700.000 ha, dan sisanya 212.857 ha tersebar di Kabupaten Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, dan Palangkaraya. Perkebunan kelapa sawit mempunyai potensi daya dukung untuk pengembangan peternakan sebagai sumber pakan ternak, baik yang berupa hijauan yang tumbuh di kawasan perkebunan maupun limbah pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (crude palm oil = CPO). Melalui keterpaduan dengan tanaman perkebunan, upaya pengembangan ternak ternyata menunjukkan hasil yang positif .

Kendala utama pengembangan ternak di area perkebunan kelapa sawit adalah rendahnya kandungan gizi rumput alam. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap berbagai jenis rumput yang tumbuh di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Barat menunjukkan kandungan bahan kering 83,15%, protein kasar 7,27%, karbohidrat 14,32%, lemak kasar 1,84%, kalsium 0,08%, fosfor 0,004%, dan energi 102,02 kal/100 g . Jumlahnya pun masih jauh dari mencukupi, terlebih pada musim kemarau. Berdasarkan hasil monitoring, kapasitas tampung ternak mhanya mencapai 0,70 ekor/ha/tahun, jauh lebih rendah dibandingkan bila mengintroduksikan rumput unggul (rumput raja) di kawasan perkebunan dengan kapasitas tampung mampu mencapai 6,06 ekor/ha/tahun. Selain itu, kandungan nutrisinya juga lebih tinggi. Keberhasilan pengembangan peternakan sangat ditentukan oleh penyediaan pakan ternak . Upaya peningkatan produksi ternak tidak cukup hanya dengan memberikan rumput alam saja, tetapi perlu adanya pakan tambahan. Pakan tambahan yang potensial untuk dimanfaatkan adalah limbah kelapa sawit yang berupa “solid” .

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa solid berpotensi sebagai sumber nutrisi baru untuk ternak dengan kandungan bahan kering 81,56%, protein kasar 12,63%, serat kasar 9,98%, lemak kasar 7,12%, kalsium 0,03%, fosfor 0,003%, dan energi 154 kal/100 g (Utomo et al. 1999). Pada uji preferensi terhadap 25 ekor sapi Madura, solid pada akhirnya sangat disukai, namun perlu waktu adaptasi 4−5 hari.
Pemanfaatan solid sebagai pakan ternak diharapkan dapat membantu mengatasi masalah ketersediaan pakan terutama pada musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas ternak. Ratarata pertambahan bobot badan harian(PBBH) sapi milik petani di Kabupaten Kotawaringin Barat yang tidak diberi pakan solid jauh di bawah PBBH ternak yang diberi solid, yaitu hanya 250 g/ekor/ hari . Hal ini disebabkan kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, dalam hal ini rumput alam, relatif rendah.

Nutrisi protein ternak ruminansi


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Nutrisi protein ternak ruminansia merupakan hal yang agak kompleks jika dibandingkan dengan nutrisi protein ternak non-ruminansia. Pada ternak non-ruminansia, ternak memenuhi kebutuhan proteinnya dari asam-asam amino yang diserap dari saluran pencernaan, dan ketersediaan asam amino tersebut sebagian besar bisa digambarkan dari konsentrasi protein yang terkandung dalam bahan pakan.

Pada ternak ruminansia, kondisinya tidak demikian. Ternak ruminansia memenuhi kebutuhan asam aminonya dari dua sumber, yaitu protein pakan yang tidak terurai di dalam rumen (Undegraded Dietary Protein) dan protein mikroba. Kedua sumber protein tersebut dicerna oleh enzim pencernaan ternak di usus halus menjadi peptida kecil dan asam-asam amino untuk kemudian diserap masuk ke dalam tubuh. Dalam kondisi pemberian pakan yang normal, di mana protein pakan hampir semuanya mengalami penguraian di dalam rumen, protein mikroba memainkan peran yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan asam amino ternak. Bahkan, ternak ruminansia mampu hidup dan bertahan dengan kandungan protein pakan yang rendah karena pasokan protein dalam bentuk protein mikroba ke usus halus. 

Oleh karena itu, selain untuk memenuhi tugas dalam Mata Kuliah “Nutrisi Ternak Dasar” ini, penyusun mengangkat judul tentang Protein, karena protein merupakan zat paling penting yang harus ada dalam Nutrisi Makanan Ternak. Disini penyusun tertarik untuk lebih mendalami tentang protein.

Tujuan
  1. Tujuan Umum
    Adapun tujuan umum dibuatnya makalah tentang protein adalah Agar mahasiswa dan pembaca dapat mengetahui mengerti tentang pentingnya protein untuk tubuh kita.
  2. Tujuan Khusus
    Adapun tujuan Khusus dibuatnya makalah tentang protein adalah sebagai berikut :
    - Mengemukakan permasalahan tentang protein.
    - Menjabarkan kadar dan fungsi protein
    - Memberitahu kepada mahasiswa sumber protein.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Protein
Istilah protein berasal dari bahasa Yunani yaitu ”Proteos”, yang berarti “Yang Utama” atau “Yang Didahulukan”. Kata ini diperkenalkan oleh Ahli Kimia Belanda, Gerardus Mulder (1802 – 1880). Ia berpendapat bahwa protein adalah zat yang paling penting dalam setiap organisme.

Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein separuhnya ada di dalam otot, seperlima dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh dalam kulit dan selebihnya dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon pengangkut zat – zat gizi dan darah. Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai Prekursor, sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul – molekuk esensial untuk kehidupan.

Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat kimia lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.

Klasifikasi Protein
Adapun Klasifikasi protein antara lain Protein terdapat dalam bentuk Serabut (Fibrous), Globular, dan Konjngsi.
  • Protein Serabut (Fibrous) Terdiri atas beberapa rantai peptida berbentuk spiral dan terjalin satu sama lain, sehingga menyerupai botany yang kaku.
    Karakteristiknya :
    - Rendah daya larutnya.
    - Mempnayi kekuatan mekanis yang tinggi
    - Tahan terhadap enzim pencernaan.
    Contoh : Kolagen, Elastin, Keratin, Miosin.
  • Protein Globular
    Karakteristiknya :
    - Berbentuk bola.
    - Larut dalam larutan garam dan asam encer.
    - Mudah berubah dalam pengaruh suhu.
    - Konsentrasi garam mudah mengalami denaturasi.
    Contoh : Albumin, Globumin, Histon, Protamin
  • Protein Konjungsi Merupakan protein sederhana yang terikat dengan bahan – bahan non asam amino (Gugus Prostetik).
    Contoh : Nukleoprotein, Lipoprotein, Fosfoprotein, Metaloprotein.

Jenis – Jenis Protein
Adapun Jenis-jenis Protein di susun atas :
  • Berdasarkan Komponennya
    - Protein Bersahaja Merupakan campuran yang terdiri atas asam amino.
    - Protein Kompleks Selain terdiri atas asam amino juga terdapat komponen lain (unsur logam, gugus posfat, dll).
    - Protein Non Kompleks Merupakan ikatan antara intermediet produk sebagai hasil hidrolisa parsial dari protein native.
  • Berdasarkan Sumbernya
    - Protein Hewani yaitu Protein yang berasal dari binatang, contoh : Daging, Susu, telur, dll.
    - Protein Nabati Berasal dari tumbuhan, contoh : Jagung.
  • Berdasarkan Fungsi Fisiologiknya
    - Protein Sempurna.
    - Protein Setengah Sempurna.
    - Protein Tidak Sempurna.

Komposisi Kimia Protein
Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara lima ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai – rantai panjang asam amino yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Molekul protein lebih kompleks dari pada karbohidrat dan lemak dalam hal berat molekul dan keanekaragaman unit – unit asam amino yang membentuknya.

Asam amino terdiri atas atom karbon yang terikat pada satu Gugus Karboksil (-COOH), satu Gugus Amino (-NH2), satu Atom Hidrogen (-H) dan satu gugus Radikal (-R) atau rantai cabang.

Pada umumnya asam amino yang diisolasi dari protein dihidroksilat alfa – asam amino, yaitu gugus karboksil dan amino terikat pada atom karbon yang sama. Yang membedakan asam amino satu sama lain adalah rantai cabang atau gugus –R nya.

Fungsi, Guna, dan Sumber Protein
Adapun Fungsi dari protein adalah sebagai berikut
a. Untuk pertumbuhan dan pemeliharaan.
b. Untuk pembentukan ikatan – ikatan esensial tubuh.
c. Untuk mengatur keseimbangan air dalam tubuh.
d. Untuk memelihara netralitas tubuh.
e. Untuk pembentukan antibodi.
f. Untuk mengangkat zat – zat gizi.
g. Sebagai sumber energi.

Oleh karena itu, protein sangat berperan penting dalam tubuh ternak, karena bila manusia tidak cukup protein, maka mereka akan dapat menderita gizi kurang.

Klasifikasi bahan pakan menurut sumbernya


klasifikasi bahan pakan menurut sumbernya
Info Peternakan - Sebelumnya sudah posting artikel tentang klasifikasi bahan pakan menurut asalnya. nah kali ini saya akan posting artikel lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu penggolongan / klasifikasi bahan pakan menurut sumbernya.
Sumber energi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
  • Kelompok serealia/ biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
  • Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
  • Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
  • Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria).

Molases termasuk sumber energi.  Molases merupakan hasil samping pada industri pengolahan gula dengan wujud bentuk cair. Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa molasses adalah limbah utama industri pemurnian gula. Molases merupakan sumber energi yang esensial dengan kandungan gula didalamnya. Oleh karena itu, molasses telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak dengan kandungan nutrisi atau zat gizi yang cukup baik. Molasses memiliki kandungan protein kasar 3,1 %; serat kasar 0,6 %; BETN 83,5 %; lemak kasar 0,9 %; dan abu 11,9 % (Pond dkk,1995). 

Molasses dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Cane-molasses, merupakan molasses yang memiliki kandungan 25 – 40 % sukrosa dan 12 – 25 % gula pereduksi dengan total kadar gula 50 – 60 % atau lebih. Kadar protein kasar sekitar 3 % dan kadar abu sekitar 8 – 10 %, yang sebagian besar terbentuk dari K, Ca, Cl, dan garam sulfat; (2) Beet-molasses­ merupakan pakan pencahar yang normalnya diberikan pada ternak dalam jumlah kecil. (Anonimc, 2012).

Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
  • Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
  • Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero
  • Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya).

Beberapa pakan sumber protein:
  • Tepung Darah
    Tepung darah merupakan limbah jagal yang banyak di Indonesia, tetapi jarang digunakan karena penampungan darah bekas jagal itu kotor dan banyak tercemar tinja sapi atau kerbau yang dipotong Kandungan proteinnya tinggi, bahkan lebih tinggi dari bungkil kedelai. (Santoso, 1996).
    Daging hewan keong  itu bisa digunakan sebagai pengganti tepung ikan dan kulitnya bisa menjadi pengganti tepung tulang. Selama ini Indonesia masih mengimpor bahan baku pakan, seperti tepung ikan dan tepung tulang, yang mencapai ratusan ribu ton dalam setahun (Anonimd, 2012).
  • Kacang gude
    Kacang gude mengandung gizi yang cukup tinggi yakni 22% protein, 65% karbohidrat dan 15% lemak. Kacang gude dapat dimanfaatkan sebagai pengganti kedelai atau bahn pencampur pada produk yang mengunakan bahan dasar kedelai, misalnya temped dan kecap. Selain sebagai bahan pangan, tanaman kacang gude digunakan pula sebagai pakan ternak, pelindung di pembibitan, pencegaha erosi, dan pematah angin (Anonime, 2012)
  • Bungkil kelapa
    Bungkil kelapa merupakan limbah dari pembuatan minyak kelapa dapat digunakan sebagai pakan lemak. Indonesia kaya akan pohon kelapa dan banyak mendirikan pabrik minyak goreng, sehingga bungkil kelapa banyak tersedia kandungan protein cukup tinggi sekitar 21,6% dan energi metabolis sekitar 1540 - 1745 Kkal/Kg. Tetapi bungkil kelapa ini miskin akan Cysine dan Histidin serta kandungan lemaknya tinggi sekitar 15%. Oleh karena itu penggunaan dalam menyusun ransum tidak melebihi 20%, sedang kekurangan Cysine dan Histidin dapat dipenuhi dari tepung itu atau Cysine buatan pabrik (Santoso, 1996).
  • SulfurSulfur juga termasuk sumber energi. Sulfur adalah nutrisi utama bagi semua organisme. akumulasi unsur-unsur lain, membuat bahan tanaman (nabati ekstraksi) kurang cocok untuk digunakan sebagai pakan ternak dan untuk konsumsi manusia. Sulfur (S) asimilasi oleh tumbuhan memainkan peran penting dalam siklus S di alam, dan metabolisme S berasimilasi menyediakan berbagai senyawa yang bermanfaat bagi hewan, termasuk manusia (Anonimd, 2012).
  • Tepung keongDaging hewan keong  itu bisa digunakan sebagai pengganti tepung ikan dan kulitnya bisa menjadi pengganti tepung tulang. Selama ini Indonesia masih mengimpor bahan baku pakan, seperti tepung ikan dan tepung tulang, yang mencapai ratusan ribu ton dalam setahun (Anonimf, 2012).
  • Tepung reseKandungan proteinnya bervariasi antara 43 – 47% dan merupakan sumber kalsium yang baik karena mengandung kitin. Tapi di Indonesia pemakaiannya belum umum, karena produksinya memang sedikit (Anonimb, 2012).
  • HerbalTujuan penggunaan herbal adalah untuk mengganti penggunaan antibiotik dalam pakan dan air minum sebagai feed additive yang dapat memberikan efek negatif pada ternak seperti growth promoter dan pencegah penyakit serta dapat menurunkan kolesterol dalam tubuh ternak. Penggunaan herbal sebagai feed additive dalam ransum broiler bertujuan untuk mengganti penggunaan antibiotik sebagai growth promotor dan pencegah penyakit pada ternak unggas sehingga ternak dan manusia dapat terhindar dari residue antibiotik dan resistensi bakteri (Anonimd, 2010).
Sumber vitamin dan mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya. Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral (Anonime, 2012).

Kedelai merupakan salah satu sumber mineral. Kedelai merupakan salah satu bahan pakan yang mempunyai nilai biologis tinggi. Penggunaan kedelai sebagai bahan pakan ternak ruminansia belum lazim digunakan di Indonesia karena harga mahal, persaingan dengan kebutuhan pangan dan ternak monogastrik. Hasil ikutan kedelai yang banyak digunakan sebagai ransum ternak ruminansia diantaranya adalah ampastahu, ampas kecap kedelai afkir. Penggunaan bahan pakan asal kedelai dan ikutanya dapat digunakan semaksimal mungkin (Anonimf, 2012). 
Bahan Pakan Sumber Vitamin
Selain protein, energi, mineral ternak juga membutuhkan vitamin. Bahan pakan sumber vitamin yaitu minyak ikan, premix, multivitamin dan sayuran hijau dengan penggunaan sebanyak 0,5-2% dari total ransum (Anonime, 2012).