BAHAN DAN KONSTRUKSI PERKANDANGAN AYAM

BAHAN DAN KONSTRUKSI PERKANDANGAN AYAM

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

     Bahan dan konstruksi kandang merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian dalam system perkandangan. Hal ini berhubungan dengan terciptanya suatu kondisi microclimat yang lebih sesuai dengan tingkat kebutuhan fisiologis ayam. Konstruksi kandang juga merupakan aspek yang berhubungan dengan aktivitas ternak yang tergambar dari tingkahlaku sesuai dengan fase pertumbuhan atau tingkat produksi dan tujuan produksi dari ternak.

Sehubungan dengan hal ini maka pemahaman tentang system perkandangan khususnya yang menyangkut dengan bahan dan konstruksi perkandangan merupakan hal penting  yang perlu dipahami oleh mahasiswa untuk lebih melengkapi hal-hal yang berhubungan dengan produksi ternak unggas.

B. Ruang Lingkup Isi

Ruang lingkup yang menjadi pokok bahasan dalam modul ini meliputi:
- Konstruksi perkandangan
- Pembuatan kandang berdasarkan tujuan produksi dan fase pertumbuhan ternak
- Bahan-bahan yang dapat digunakan dalam mendisain suatu perkandangan

C. Kaitan Modul

Modul ini secara struktur merupakan bagian dari suatu bahasan tentang faktor-faktor pendukung dalam produksi dan manajemen yang menyangkut sistem perkandangan khususnya yang menyangkut bahan dan konstruksi yang perlu dipahami oleh mahasiwa.

D. Sasaran Pembelajaran Modul

Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami aspek-aspek yang berhubungan dengan system perkandangan khususnya yang menyangkut bahan dan konstruksi, serta tujuan produksi dan tingkat pertumbuhan ternak..

BAB II. PEMBAHASAN
Bahan dan Konstruksi Atap
- Beberapa jenis bahan atap yang dapat digunakan adalah:
  1. Seng; Tingkat refleksi 10 – 36%
  2. Genteng; Tingkat refleksi 35 – 57%
  3. Asbes; Tingkat refleksi 29 – 80%
  4. Rumbia; Tingkat refleksi 44%
- Beberapa konstruksi disain pada atap yang dapat digunakan adalah:
  1. Tipe jongkok
  2. Tipe A
  3. Tipe setengah jongkok
  4. Tipe monitor
  5. Tipe semi monitor
Konstruksi Dinding

Beberapa konstruksi disain dinding kandang yang dapat digunakan adalah:
  1. Tipe diding terbuka satu sisi
  2. Tipe dinding terbuka semua sisi (opened house) (diperuntukkan untuk fase dara/pertumbuhan dan dewasa)
  3. Tipe dinding setengah dinding keatas (diperuntukkan untuk fase starter)
  4. Tipe tertutup semua (closed house)
secara umum tinggi dinding kandang berkisar antara 2,25 – 2,5 m dengan lebar 6 – 8 m.

Konstruksi Lantai

Bahan dan konstruksi lantai tediri atas:
  1. Lantai Rapat; Bahan dasar yang dapat digunakan tediri dari lantai tanah, semen dan papan.Pada permukaan lantai diberi bahan litter berupa bahan organic yang dapat menyerap air seperti: serbuk gergaji, sekam padi, potongan jerami kering, dan lain-lain
  2. Lantai Renggang; Jenis-jenis lantai renggang adalah:
  • Wire floor system; Terbuat dari anyaman kawat
  • Slatt floor system; Bila-bila yang disusun memanjang dan bercela yang terbuat dari bahan-bahan seperti bilah bambou, kayu, logam atau plastic. Lebar celah 2,5 cm, lebar bilah 2,5 cm dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan kandang.
  • Cage/battery system; Terbuat dari bilah bambu atau kawat dengan ukuran cage bervariasi sesuai dengan jumlah dan jenis ayam yang digunakan.

BAB III
PENUTUP

Pemahaman tentang sistem perkandang, khusunya menyangkut bahan dan konstruksi kandang, merupakan hal penting dalam produksi dan manajemen pemeliharaan unggas. Sehingga diharapkan setelah mahasiwa mengikuti proses pembelajaran dari modul ini mahasiswa dapat memahami, memberi penjelasan dan menganalisa proses produksi dan manajemen pemeliharaan ternak unggas dalam hubungannya dengan sistem perkandangan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1985. Petunjuk Teknis Peningkatan Usaha Ayam Pedaging. Direktorat Jenderal Peternakan. Direktorat Bina Usaha Petani Peternak dan Pengolahann Hasil Peternakan, Bagian Proyek Pembinaan Usaha Petani ternak Unggas. Jakarta.

Koch, T. 1973. Anatomy of The Chicken and Domestic Birds. 1st. Ed. The Iowa State University Press/Ames, Iowa.

Moment, G.B. 1967. General Zoology. 2nd. Horghton Mifflin Company. Boston, New York, Geneva, Ill, Dallas, Palo Alto.

Nalbaudov, A.V. 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. Ed. I. U.I. Press. Jakarta.

North, M.O. and D.D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. 4th. Ed. An Avi Book Publisher by Van Nostrand Reinhald. New York.

Sudaryani, T. dan H. Santosa. 1994. Pembibitan Ayam Ras. Cetakan I. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tanudimadja, K. 1974. Anatomi dan Fisiologi Ayam. Cetakan Ketiga. Bagian Anatomi, Departemen Zoologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Winter, A. R. and Funk, E. M. 1956. Poultry Science and Practice. 5th. Ed. J.B. Lippencott Company, Chicago, Philadelphia, New York.

Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit Dalam Sektor Peternakan

PENDAHULUAN

Ketergantungan akan komponen impor bahan penyusun ransum unggas yang semakin mahal, menyebabkan keterpurukan industri perunggasan dewasa ini. Disisi lain, dampak negatif sebagai akibat pergeseran fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian yang terus meningkat sangat dirasakan usaha ternak ruminansia. Sumber dan ketersediaan hijauan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak menjadi terbatas.

Meskipun limbah pertanian selalu dikaitkan dengan harga yang murah, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemanfaatannya. Faktor dimaksud adalah kontinuitas ketersediaan, kandungan gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat anti nutrisi serta perlu tidaknya bahan tersebut diolah sebelum dapat digunakan sebagai pakan. Hasil-hasil penelitian tentang pemanfaatan beberapa limbah pertanian seperti dedak padi, limbah singkong, bungkil kelapa, limbah kelapa sawit, ampas tahu, limbah udang, kakao pod, batang pisang dan daun rami dalam pakan ternak ruminansia (sapi dan domba) dan non-ruminansia (ayam ras, ayam buras dan itik) merrupakan bagian dari pakan inkonvensional.

Pengembangan peternakan khususnya ruminansia pada kawasan perkebunan kelapa sawit dapat memanfaatkan sumber pakan berupa limbah kelapa sawit antaral ain, bungkil inti sawit, serat sabut buah sawit, dan lumpur sawit. Pemakaian limbah perkebunan memerlukan sentuhan teknologi agar pemanfaatannya optimum bagiternak. Usaha-usaha pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit yang berkualitas rendah dapat dilakukan dengan sentuhan teknologi antara lain, peningkatkan kecernaan struktural karbohidrat dengan perlakuan kimiavvi (amoniasi), fisik, dan biologis (fermentasi). Limbah solid asal kelapa sawit merupakan perbaikan nutrisi protein pakan ternak ruminansia Dalam makalah ini akan dikupas pemamfaatan kelapa sawit sebagai pakan ternak pada daerah Kalimantan Tengah.
Hal Inilah Yang Melatar Belakangi Pembuatan Makalah Ini Dengan Judul Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit Dalam Sektor Peternakan.

PEMBAHASAN
 
A.   Mengenal Limbah Solid

     Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah mempunyai potensi daya dukung untuk pengembangan peternakan,yaitu sebagai sumber pakan baik pakan hijauan maupun pakan dari limbah pengolahan minyak kelapa sawit. Salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah solid. Produksi limbah tersebut di Kabupaten Kotawaringin Barat mencapai 18−21 t/hari/pabrik. Bila limbah tersebut dimanfaatkan sebagai pakan, jumlah tersebut dapat menampung + 155.000 ekor sapi/hari. Solid mengandung bahan kering 81,56%, protein kasar 12,63%, serat kasar 9,98%, lemak kasar 7,12%, kalsium 0,03%, fosfor 0,003%, dan energi 154 kal/100 g. Pemberian solid dalam bentuk segar secara ad libitum kepada sapi PO jantan memberikan pertambahan bobot badan harian (PBBH) 770 g/ekor/hari. Pada domba, pemberian solid 1% dari bobot badan, baik dalam bentuk segar, complete feed block (CFB) tanpa fermentasi maupun CFB fermentasi masing-masing memberikan PBBH 45, 64, dan 83 g/ekor/hari.

Solid merupakan salah satu limbah padat dari hasil pengolahan minyak sawit kasar.  Di Sumatera, limbah ini dikenal sebagai lumpur sawit, namun solid biasanya sudah dipisahkan dengan cairannya sehingga merupakan limbah padat. Ada dua macam limbah yang dihasilkan pada produksi CPO, yaitu limbah padat dan limbah cair. Saat sekarang ini produksi limbah solid di dua pabrik pengolahan CPO di Kabupaten Kotawaringin Barat sekitar 36−42 t/hari (rata-rata 20 t/pabrik/hari). Jumlah limbah solid yang dihasilkan bergantung pada TBS yang diolah. Produksi TBS akan makin bertambah pada masa mendatang seiring dengan makin luasnya area perkebunan kelapa sawit yang berproduksi. Diharapkan dalam setiap 10.000 ha berdiri satu pabrik  pengolahan CPO.

Pemeliharaan ternak (sapi) sebag iusaha sambilan kurang menguntungkan apabila memanfaatkan solid sebagai pakan karena akan menambah biaya produksi, berupa biaya angkut dari pabrik ke lokasi peternak. Kondisi ini dapat menghambat adopsi teknologi pemanfaatan solid. Solid akan dimanfaatkan secara luas oleh peternak apabila pemeliharaan ternak bersifat komersial misalnya penggemukan. Strategi yang dapat ditempuh untuk memaksimumkan pemanfaatan solid sebagai pakan adalah melalui kemitraan antara petani dan pemerintah daerah ataupun pihak swasta.

B. Limbah Solid sebagai Pakan Ternak

Industri kelapa sawit menghasilkan limbah yang berpotensi sebagai pakan ternak, seperti bungkil inti sawit, serat perasan buah, tandan buah kosong, dan solid . Bungkil inti sawit mempunyai nilai nutrisi yang lebih tinggi dibanding limbah lainnya dengan kandungan protein kasar 15% dan energi kasar 4.230 kkal/kg sehingga dapat berperan sebagai pakan penguat (konsentrat). Namun, bungkil inti sawit di Kalimantan Tengah merupakan komoditas ekspor yang harganya relative mahal sehingga bukan merupakan limbah, dan akan menjadi bahan pakan yang mahal bila diberikan pada ternak. Serat perasan buah dan tandan buah kosong bersama-sama dengan cangkang biasanya dibakar dijadikan abu untuk dimanfaatkanm sebagai pupuk sumber kalium.

Perluasan kebun kelapa sawit di Kalimantan Tengah ditargetkan mencapai area 1.557.752 ha. Apabila tanaman kelapa sawit sudah berproduksi semua, dan setiap 10.000 ha terdapat satu pabrik, maka dalam kebun seluas itu akan terdapat 155 pabrik pengolahan kelapa sawit. Apabila tiap pabrik rata-rata menghasilkan solid 20 t/hari maka setiap hari akan diperoleh 3.100 ton solid. Apabila seekor sapi dapat mengkonsumsi solid + 20 kg/hari (jumlah yang biasa diberikan peternak pada sapi dengan rata-rata bobot badan 250 kg), maka produksi limbah tersebut akan dapat mencukupi kebutuhan pakan bagi + 155.000 ekor sapi/ hari. Dengan demikian, keberadaan perkebunan kelapa sawit sangat menpengembangan peternakan baik dalam skala menengah maupun besar. Apalagi saat ini perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah berkembang cukup pesat dengan target area 1.557.752 ha yang tersebar di Kabupaten Kotawaringin Barat 644.845 ha, Kotawaringin Timur 700.000 ha, dan sisanya 212.857 ha tersebar di Kabupaten Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, dan Palangkaraya. Perkebunan kelapa sawit mempunyai potensi daya dukung untuk pengembangan peternakan sebagai sumber pakan ternak, baik yang berupa hijauan yang tumbuh di kawasan perkebunan maupun limbah pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (crude palm oil = CPO). Melalui keterpaduan dengan tanaman perkebunan, upaya pengembangan ternak ternyata menunjukkan hasil yang positif .

Kendala utama pengembangan ternak di area perkebunan kelapa sawit adalah rendahnya kandungan gizi rumput alam. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap berbagai jenis rumput yang tumbuh di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Barat menunjukkan kandungan bahan kering 83,15%, protein kasar 7,27%, karbohidrat 14,32%, lemak kasar 1,84%, kalsium 0,08%, fosfor 0,004%, dan energi 102,02 kal/100 g . Jumlahnya pun masih jauh dari mencukupi, terlebih pada musim kemarau. Berdasarkan hasil monitoring, kapasitas tampung ternak mhanya mencapai 0,70 ekor/ha/tahun, jauh lebih rendah dibandingkan bila mengintroduksikan rumput unggul (rumput raja) di kawasan perkebunan dengan kapasitas tampung mampu mencapai 6,06 ekor/ha/tahun. Selain itu, kandungan nutrisinya juga lebih tinggi. Keberhasilan pengembangan peternakan sangat ditentukan oleh penyediaan pakan ternak . Upaya peningkatan produksi ternak tidak cukup hanya dengan memberikan rumput alam saja, tetapi perlu adanya pakan tambahan. Pakan tambahan yang potensial untuk dimanfaatkan adalah limbah kelapa sawit yang berupa “solid”.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa solid berpotensi sebagai sumber nutrisi baru untuk ternak dengan kandungan bahan kering 81,56%, protein kasar 12,63%, serat kasar 9,98%, lemak kasar 7,12%, kalsium 0,03%, fosfor 0,003%, dan energi 154 kal/100 g (Utomo et al. 1999). Pada uji preferensi terhadap 25 ekor sapi Madura, solid pada akhirnya sangat disukai, namun perlu waktu adaptasi 4−5 hari.

Pemanfaatan solid sebagai pakan ternak diharapkan dapat membantu mengatasi masalah ketersediaan pakan terutama pada musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas ternak. Ratarata pertambahan bobot badan harian(PBBH) sapi milik petani di Kabupaten Kotawaringin Barat yang tidak diberi pakan solid jauh di bawah PBBH ternak yang diberi solid, yaitu hanya 250 g/ekor/ hari . Hal ini disebabkan kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, dalam hal ini rumput alam, relatif rendah.
KESIMPULAN

Limbah kelapa sawit berupa solid berpotensi sebagai sumber nutrisi untuk ternak karena mengandung protein kasar 12,63% dan energi 154 kal/100 g, ketersediaannya melimpah, berkelanjutan, dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Pemanfaatan solid sebagai pakan tambahan dipengaruhi oleh system produksi, dan menguntungkan pada pemeliharaan dengan orientasi komersial (penggemukan). Ketersediaan solid di Kalimantan Tengah dapat memenuhi kebutuhan bagi 150.000 ekor sapi/hari apabila perkebunankelapa sawit di Kalimantan Tengah sudah berproduksi semua.

Peran aktif pemerintah daerah dan atau industri pengolah minyak kelapa sawit sangat diperlukan untuk memasyarakatkan pemanfaatan solid secara lebih luas.annya untuk peningkatan produksi daging (penggemukan). Pemanfaatan solid sebagai pakansuplemen ternak hanya menguntungkan pada usaha penggemukan atau berorientasi komersial

DAFTAR PUSTAKA
Aritonang, D. 1986. Perkebunan kelapa sawit  sebagai sumber pakan ternak d Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian V(4): 93−99.

Dinas Kehewanan Kalimantan Tengah. 2001. Kebijakan dan strategi pembangunan  peternakan di Kalimantan Tengah tahun 2001−2005.  Makalah disampaikan pada Temu Aplikasi Paket Teknologi dan Temu Informasi Pertanian Subsektor Peternakan 13−14 November 2001 di Balai Pengkajian Teknologi.

Kamaruddin, A. 1997. The effects of feeding palm oil by-products on the growth performance and nutrients utilization by growing lambs. Prosiding Seminar Nasional II Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, 15−16 Juli 1997. Kerja Sama Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor dengan Asosiasi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Indonesia (AINI), Bogor. hlm. 71−72.

Ketaren, P.P. 1986. Bungkil inti sawit dan ampas minyak sawit sebagai pakan ternak. WartaPenelitian dan Pengembangan Pertanian8 (4−6): 10−11.

Pasaribu, T., A.P. Sinurat, J. Rosida, T. Purwadaria, dan T. Haryati. 1998. Pengkayaan gizi bahan pakan inkonvensional melalui fermentasi untuk ternak unggas. 2. Peningkatan nilaigizi lumpur sawit melalui fermentasi.  Edisi Khusus Kumpulan Hasil-hasil Penelitian Peternakan Tahun Anggaran 1996/1997. Buku III: Penelitian Ternak Unggas. BalaiPenelitian Ternak, Bogor

Organ Reproduksi Betina

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Reproduksi adalah naluri setiap organisme untuk beranak-pinak. Ciri etik individu makhluk hidup  ialah bahwa umurnya terbatas, dan pada suatu ketika akan menjadi tua kemudian mati karena suatu faktor, baik itu parasit, pemangsa atau sebagainya. Karena itu perlu suatu perkembangan baru untuk mengganti reputasi yang telah tiada. Jadi kelangsungan hidup individu sebagian ditunjukkan untuk memenuhi kemampuan reproduksi yang mutlak bagi kelstarian spesies.


Sapi betina tidak hanya memproduksi sel kelamin yang sangat penting untuk mengawali kehidupan turunannya yang baru, tetapi ia menyediakan pula tempat beserta lingkungan untuk perkembangan individu baru itu, dimulai dari waktu pembuahan ovum dan memeliharanya selama awal kehidupanya. Tugas ini dilaksanakan oleh alat reproduksi primer dan sekunder. Alat reproduksi primer, yaitu ovaria memproduksi ovum dan hormon betina. Organ reproduksi sekunder terdiri dari tuba fallopi, uterus, cerviks, vagina dan vulva. Fungsi alat-alat ini adalah menerima dan mempersatukan sel kelamin jantan dan betina, memelihara dan melahirkan individu baru.

            Hal inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan praktikum Dasar Reproduksi Ternak, mengenai Pengenalan Organ Kelamin Betina.

Tujuan dan Kegunaan

            Tujuan dari praktikum Dasar Reproduksi Ternak ini mengenai Pengenalan Organ Reproduksi Betina adalah untuk mengetahui bentuk dan ukuran dan bentuk anatomis dari bagian-bagian organ kelamin betina serta mengetahui fungsi dari masing-masing bagian tersebut.

            Kegunaannya adalah agar dapat mengenal dan mengetahui letak, fungsi dan bentuk dari masing-masing bagian organ kelamin betina serta mengetahui ukuran dari masing-masing bagian.



TINJAUAN PUSTAKA

A.    Organ Kelamin Primer  
 
Ovarium

            Gonad atau ovarium, merupakan bagian alat kelamin yang utama, ovarium menghasilkan telur, oleh karena itu dalam bahasa Indonesia seringkali disebut induk telur, indung telur atau ada pula yang menyebutnya pengarang telur. Perkembangan ovarium pada masa reproduksi diatur oleh hormon-hormon yang berasal dari kelenjar hifofisa yang terdapat di dasar otak dalam kepala. Bentuk ovarium berbeda menurut spesiaes hewan (Frandson, 1986)

Cavum abdomalis memiliki dwifungsi, sebagi organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan sebagai organ endokrin yang mengekresikan hormone kelamin betina, estrogen dan progesteron. Dimana hormon  ini berperan penting dalam menyiapkan alat-alat reproduksi untuk kebuntingan dan memelihara kandungannya sampai melahirkan (Salisbury, 1985).

Pasangan ovarium normal, pada sapi yang tidak bunting terletak di sebelah atas rongga perut, 30-45 cm di sebelah dalam dari lubang vulva : (a) ovaria biasanya terletak dekat dengan cornua uteri, yaitu tempat dimana dipertautkan dengan ligament ovaria ; (b) ligament ini merupakan bagian dari alat penggantung lebar yang menggantungkan saluran-saluran reproduksi pada dinding perut bagian atas (Salisbury, 1985).

Ovarium bentuknya biasanya bulat telur atau bulat tetapi kadang-kadang pipih berhubung dengan pembentukan folikel dan corpoa lutea. Ukuran normal ovari sangat bervariasi dari satu spesies ke spesies lain bahkan antara spesies juga terdapat varisasi. Besar dan bentuk ovaria sering berubah. Ovarium umumnya berukuran panjang 32-42 mm, tinggi 19-32 mm dan lebar 13-19 mm dengan berat 10-19 gr. Pada anak sapi ovarium kiri lebih besar dibanding dengan ovarium kanan, sedangkan pada sapi dewasa ovarium kanan lebih besar. Sebagian besar dari permukaan ovarium diliputi oleh lapisan epitel lembaga, ova dapat dilepaskan dari setiap tempat pada permukaan ovarium. Medulla ovarium mengandung pembuluh darah , syaraf dan tenunan pengikat (Salisbury, 1985).

Ovarium sapi lebih kecil daripada kuda. Dan ovarium kanan biasanya lebih besar daripada yang kiri. Berbentuk oval, tidak mempunyai fossa ovarii. Terletak 40-45 cm dari pintu vulva sebelah luar. Apabila ada corpus luteum, maka lataknya superfisial, sehingga menonjol dan dapat dilihat dari permukaan luar. Corpus luteum berwarana kuning coklat (Aswin, 2009)
 
Folikel pada ovarium bergaris tengah 12 mm pernah ditemukan pada anak sapi berumur 4-5 bulan jauh sebelum pedet. Folikel yang masak bergaris tengah 8-19 mm. Sedangkan corpus luteum yang telah matang bergaris tengah 25-32 mm. Pada sapi yang tidak bunting dan normal, corpus luteum hanya aktif untuk beberapa hari, lalu mengecil. Corpus luteum pada sapi yang sedang bunting tetap tinggal dan aktif di dalam ovarium selama kebuntingan (Salisbury, 1985).

B.  Organ Kelamin Sekunder

1.      Oviduct (Tuba Fallopi)

Oviduct atau tuba fallopi yang juga disebut tuba uterine adalah saluran  yang berpasangan dan berkonvolusi yang menghantarkan ova dari ovarium menuju tanduk uterus, dan juga merupakan tempat terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa (Frandson, 1986).

Tuba uterina bersifat bilateral, strukturnya berliku-liku yang menjulur dari daerah ovarium ke kornua uterina dan menyalurkan ovum, spermatozoa, dan zigot. Tiga segmen oviduk dapat dibedakan menjadi infundibulum, ampula, isthmus.

Epitel tuba uterina berbentuk silinder sebaris atau silinder banyak lapis dengan silia aktif. Baik sel tipe bersilia maupun tidak bersilia dilengkapi dengan mikrovili.

Mukosa langsung berhubungan dengan submukosa karena lamina muskularis mukosa tidak ada. Pada tuba uterina, propia submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar dengan banyak sel plasma, sel mast dan leukosit eosinofil. Tunika mukosa submukosa pada ampula membuat lipatan tinggi terutama pada babi dan kuda betina.

Tunika muskularis terutama terdiri dari berkas otot polos melingkar, memanjang dan miring. Lapis otot tersebut memberikan jalur radial memasuki mukosa. Pada infundubulum dan ampula, tunika muskularis yang tipis dan tersusun oleh lapis dalam melingkar. Tunika serosa ada dan terdiri dari jaringan mengandung pembuluh darah dan saraf. (Brown, 1992 )

Tuba fallopi sapi betina  merupakan satu pasang saluran yang berkelok-kelok dan berjalan dari ovarium ke bagian sempit cornua uteri. Panjangnya rata-rata 12,4 cm pada anak sapi, 20,4 pada sapi dara, 24,5 pada sapi tua. Kisaran panjang dari tuba fallopi yaitu 20-35 cm. Tuba fallopi memiliki garis tengah terkecil kira-kira mulai dari bagian pertengahan pembuluh sampai titik terdekat persambungan dengan cornua uteri (Nuryadi, 2010).

2.      Uterus

Uterus memiliki kesamaan antara beberapa ternak lainnya, yaitu berbetuk bicornua (dua tanduk). Pada hewan yang tak bunting uterus berada 25-40 cm ke deapan dari lubang vulva, tepat di depan cervix. Corpus Uteri bergaris tengah transversal 9-12 cm berukuran panjang 2-5 cm dan bagian depan terbagi atas 2 tanduk. Karena tanduk uterus terletak sangat berdekatan sepanjang 10-15 cm dan tumbuh bersama, maka seakan-akan corpus uteri tampak lebih panjang dari pada kenyataannya. Kadang-kadang tanduk uterus memanjang masuk ke dalam cerviks, sehingga tidak terdapat corpus uteri.  Pada tempat dimana kedua tanduk memisahkan diri garis tengahnya 3-4 cm, Dari tempat pemisahan panjang tanduk uterus biasanya 20-35 cm, membuat panjang seluruh uterus menjadi 30-55 cm. Panjang uterus beragam sesuai dengan umur hewan dan faktor lain (Nuryadi, 2010).

Uterus sapi terdapat sebagian besar di ruang abdomen. Corpus uterinya sangat pendek (3-4 cm), tetapi mempunyai cornua uteri yang panjang (30-40 cm). Tidak seperti pada kuda extremitas abdominalis dari cornua uteri sapi berbentuk corong dan berhubungan dengan tuba uterine (Aswin, 2009)

Uterus merupakan tempat implantasi zigot yang telah berkembang menjadi embrio. Dinding uterus terdiri dari (Brown, 1992) :

(1) mukosa-submukosa atau endometrium, terdiri dari dua daerah yang berbeda dalam bangun dan fungsinya. Lapis superfisial disebut zona fungsional, dapat mengalami degenerasi sebagian atau seluruhnya selama masa reproduksi, estrus. Suatu lapis tipis, zona basalis tetap bertahan sepanjang daur. Zona fungsionalis. Epitel permukaannya berbentuk silinder sebaris pada kuda, anjing. Bagian superfisial terdiri dari jaringan ikat longgar yang mengandung banyak pembuluh darah dan sel-sel jaringan ikat seperti fibroblas, makrofag dan sel mast.

(2) tunika muskularis atau miometrium, terdiri dari lapis otot dalam tebal yang umumnya tersusun melingkar, dan lapis luar memanjang terdiri dari sel-sel otot polos yang dapat meningkatkan jumlah serta ukuran selama kebuntingan. Diantara kedua lapis tersebut terdapat lapis vaskular yang mengandung arteria besar, vena serta pembuluh limfe. Pembuluh tersebut dapat memberikan darah pada endometrium.

(3) tunika serosa atau perimetrium, , terdiri dari jaringan ikat longgar yang dibalut oleh mesotel atau peritoneum. Sel-sel otot polos terdapat dalam perimetrium. Banyak pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf pada lapisan.

Ada 4 macam tipe uterus, yaitu a) Dupleks; uterus kanan dan kiri terpisan dan bermuara secara terpisah ke vagina; b) Bipartil; uterus kanan dan kiri bersatu yang bermuara ke vagina dengan satu lubang; c) Bikornua; bagian uterus kana dan kiri labih banyak yang bersatu bermuara ke vagina dengan satu lubang; d) Simpleks; semua uterus bersatu sehingga hanya memiliki badan uterus (Iqbal, 2007).

3.      Serviks

Serviks merupakan bagian dari alat reproduksi yang berdinding tebal dengan panjang 5-10 cm dari tempat sambungan dengan uterus ke arah belakang yang berkesinambungan dengan vagina yang berdinding tipis. Fungsi utama menutup lumen uterus sehingga tidak memberi kemunghkinan untuk masuknya jazad mikroskopik maupun makroskopik ke dalam uterus dalam proses birahi, dengan mengsekresikan mukosa yang melewati vulva, membantu saat proses kebuntingan dengan mampu menutup dengan ketat dengan satu sumbat dari lender. Pada waktu melahirkan, Serviks akan berfungsi melebar yang memungkinkan fetus beserta selaputnya mudah melewatinya (Salisbury, 1985)

Serviks atau leher uterus mengarah ke kaudal menuju ke vagina. Serviks merupakan sphincer otot polos yang kuat, dan tertutup rapat, kecuali pada saat terjadi birahi atau pada saat kelahiran. Pada saat birahi Serviks agak relaks sehinggga memungkinkan spermatozoa untuk memasuki uterus. Pada saat tersebut bukan tidak mungkin Serviks akan mengeluarkan mukus yang kemudian mengalir ke vulva. Peningkatan jumlah mucus juga diproduksi oleh sel-sel goblet pada serviks selama kebuntingan, guna mencegah masuknya zat-zat yang membawa infeksi dari vagina ke dalam uterus (Frandson, 1986).

Epitel Serviks adalah silinder sebaris dengan banyak sel musigen. Sel mangkok ada. Sekresi lendir yang meningkat terjadi selama berahi dan bunting, dan banyak lendir keluar melalui vagina. Lamina propria terdiri dari jaringan ikat pekat tidak teratur yang bersifat edematous, sehingga tampak sebagai jaringan ikat longgar selama birahi. Tunika muskularis terdiri dari lapis dalam melingkar dan lapis luar yang memanjang. Serabut elastik terdapat pada jaringan ikat pada lapis otot polos yang melingkar. Lamina serosa serviks terdiri dari jaringan ikat longgar. Saluran memanjang dari epooforon sering tampak pada lapis ini (Partohardjo, 1980).

4.      Vagina

Vagina merupakan perpanjangan dari cervix sampai ketempat sambungan uretra dengan saluran alat kelamin adalah bagian yang berdinding tipis. Vagina merupakan bagian dari organ repoduksi merupakan organ kopulasi pertemuan antara organ reproduksi jantan dan betina. Sel epitel berada dinding vagina yang berada dekat Serviks terdiri dari lapisan jajaran sel sel penghasil  lendir dan sel epitel tipis (Partohardjo, 1980).

Vagina adalah bagian saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis di antara uterus (arah kranial) dan vulva (kaudal). Vagina juga berperan sebagai selaput  yang menerima penis hewan jantan pada saat kopulasi. Membran mukosa dari vagina adalah epitel squamosa berstrata yang tak berkelenjar. Pada bagian vagina sapi tersebut permukaannya tidak mengalami kornifikasi, kemungkinan karena rendahnya tingkat sirkulasi estrogen (Frandson, 1986).

Vagina terletak horisontal di ruang pelvis, dimulai dari cervix uteri sampai vulva. Berbentuk tubulus sepanjang 15-20cm, dengan diameter 10-12 cm apabila diregang. Di bagian cranial dari vagina terdapat fornix vaginae yang merupakan kantong yang dibentuk oleh portio vaginalis uteri. Di bagian caudal vagina berhubungan dengan vulva. Vagina sapi lebih panjang daripada kuda, juga dindingnya lebih tebal. Panjangnya 20-35 cm. Di dinding ventral, diantara tunika muscularis dan selaput lendir terdapat 2 buah saluran Gartner yang bermuara di posterior orificium urethrae externum. Saluran Gartner adalah sisa embrional dari duktus Wolfii (Aswin, 2009)

Dinding vagina memiliki tiga lapis : tunika mukosa-submukosa, tunika muskularis dan tunika adventisia atau serosa. Mukosa vagina memiliki epitel pipih banyak lapis yang meningkat tebalnya selama praestrus dan estrus. Pada daerah kranial vagina sapi betina, lapis permukaan dengan sel-sel silinder dan sel mangkok terdapat pada epitel pipih banyak lapis. Kelenjar intraepitel terdapat pada anjing betina selama birahi. Pada kuda betina , sel epitel berbentuk polihedral dengan sedikit lapis sel pipih pada permukaan. Lapis propria submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar. Tunika muskularis terdiri dari dua atau tiga lapis. Lapis dalam melingkar tebal terdiri dari otot polos dan dipisah menjadi dua berkas oleh jaringan ikat. Lapis luar tersusun memanjnag terdiri dari otot polos. Tunika adventisia terdiri dari jaringna ikat longgar dan mengandung pembuluh darah, saraf dan ganglia. Hanya bagian kranial vagina yang masih dibalut oleh serosa. Sebagian sel-sel otot polos dari lapis luar vagina menyusup ke daerah subserosa sehingga disebut muskularis serosa (Brown, 1992 ).

C.   Organ Kelamin Luar
 
a.      Vulva
 
Vulva merupakan alat kelamin betina bagian luar termasuk clitoris dan vestibulum. Bagian ini memiliki syaraf perasa, yang memegang peranan penting pada waktu kopulasi. Kira-kira 7-10 cm masuk ke dalam dari lubang luar dan pada lantai dinding ventral vestibulum terdapat celah sepanjang 2 cm. Celah ini merupakan pintu masuk kedalam kantung buntu seburetrha (devertikulum suburethralis) dan juga merupakan sebagai orificium urethralis. Saluran urethra masuk ke dalam vestibulum sedikit di depan saluran buntu suburethra tadai pada dinding depan dan dapat merupakan sebagian dari saluran buntu tadi. Saluran buntu sendiri panjangnya 3 – 4 cm. saluran urethra berjalan ke depan, tepat di bawah vagina, ke kantung air seni (Salisbury,1986).

Vulva (pupendum feminium) adalah bagian eksternal dari genitalis betina yang terentang dari vagina sampai bagian yang paling luar. Pertautan antara vagina dan vulva ditandai oleh orifis uretral eksternal dan sering juga oleh suatu pematang, pada posisi cranial terhadap orifis uretral eksternal, yaitu hymen vestigial. Seringkali hymen tersebut demikian rapat hingga mempengaruhi kopulasi (Frandson, 1086).

Vestibula vagina adalah bagian tubular dari saluran reproduksi antara vagina dan labia vulva. Labia atau bibir vulva adalah sederhana saja dan tidak terdiri dari labia mayor dan minor seperti pada manusia (Frandson, 1086).

Lubang luar alat reproduksi sapi betina berada tepat dibawah anus. Panjang 12 cm dan mempunyai sudut lebar berbentuk bulat disebelah dorsal dan sudut sempit di sebelah ventral. Labia mayor yang tebal ditutup oleh rambut-rambut halus sampai tempat sambungan dengan mucosa. Pada perkawinan secara alamiah penis masuk ke dalam alat reproduksi betina melewati vulva, dan pada waktu melahirkan anak sapi melewatinya (Salisbury, 1986).

b.      Klitoris

Komisura ventral (bagian paling bawah) dari vulva terdapat klitoris  yang merupakan organ yang asal-usul embrionalnya sama dengan penis pada hewan jantan. Klitoris terdiri atas dua krura atau akar, badan dan kepala (glans). Klitoris terdiri dari jaringan erektil yang tertutup oleh epitel squamosa berstrata dan dengan sempurna memperoleh inervasi dari ujung saraf sensoris (Frandson, 1986).

Tepat disebelah dalam di tempat pertemuan bawah bibir vulva terdapat tenunan erectile yang disebut clitoris. Hanya bagian ujung clitoris yang tampak, tetapi kira-kira keseluruhan panjang Klitoris kira-kira 10 cm. Klitoris mempunyai persamaan dengan penis hewan jantan. Labia minora atau bibir vulva yang kecil mengitari Klitoris, yang homolog dengan praeputium (Saliasbury, 1985)
Pembahasan

1.      Organ Kelamin Primer
            Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat diketahui bahwa pada umumnya bentuk ovarium pada hewan ruminansia, dalam hal ini sapi adalah bulat atau oval dan berwarna kuning baik ovarium kanan. Pada ovarium kanan sapi yang tidak bunting pada Tabel 1 panjangnya 2 cm dengan diameter 3 cm. Ovarium kiri pada sapi yang tidak bunting pada Tabel 2, panjang 2,5 cm dan diameter 4 cm ovarium kanan panjang 2,4 dan diameter 5,8. Ukuran yang dimiliki oleh ovarium tersebut bervariasi tergantung pada jenis ternak dan umurnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1985) yang menyatakan bahwa ovarium bentuknya biasanya bulat telur atau bulat tetapi kadang-kadang pipih berhubung dengan pembentukan folikel dan corpus lutea. Ukuran normal ovari sangat bervariasi dari satu spesies ke spesies lain bahkan antara spesies juga terdapat varisasi. Besar dan bentuk ovaria sering berubah. Ovarium umumnya berukuran panjang 32-42 mm, tinggi 19-32 mm dan lebar 13-19 mm dengan berat 10-19 gr.
            Berdasarkan pada Tabel 1 dan 2 diketahui bahwa ukuran antara ovarium kanan dan kiri selalu berbeda. Dimana ovarium kanan lebih berkembang dibanding dengan ovarium kiri. Hal ini disebabkan karena ovarium kanan lebih aktif bekerja dibanding ovarium kiri terutama pada saat kebuntingandan berfungsi menghasilkan ovume. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1985) yang menyatakan bahwa pada anak sapi ovarium kiri lebih besar dibanding dengan ovarium kanan, sedangkan pada sapi dewasa ovarium kanan lebih besar, sebab secara fisiologik ia lebih aktif.
2.      Organ Kelamin Sekunder

  • Oviduct
            Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka dapat diketahui bahwa merupakan saluran yang panjang dan kecil serta berkelok-kelok, yang menjadi penghubung antara ovarium dan uterus. Oviduct merupakan tempat terjadinya fertilisasi. Hal ini sesuai dengan Frandson (1986) yang menyatakan bahwa oviduct atau disebut tuba fallopi yang juga disebut tuba uterine adalah saluran  yang berpasangan dan berkonvolusi yang menghantarkan ova dari tiap ovari  menuju ke tanduk uterus, dan juga merupakan tempat terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa. Tuba uterina bersifat bilateral, strukturnya berliku-liku yang menjulur dari daerah ovarium ke kornua uterina dan menyalurkan ovum, spermatozoa, dan zigot.
            Dari hasil pengukuran yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa ukuran oviduct bervariasi, dimana oviduct kanan pada sapi betina yang tidak bunting pada Tabel 1.  Panjang 20,5 cm dan diameter 1 cm. Pada sapi betina yang tidak bunting pada Tabel 2,  panjang oviduct kiri 8 cm dan diameter 0,5 cm. sedangkan oviduct kanan Panjang 7,5 dan diameter 0,4 cm. Variasi tersebut tergantung pada ternaknya dan kebuntingan. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1985), Tuba fallopi sapi betina  panjangnya rata-rata 12,4 cm pada anak sapi, 20,4 pada sapi dara, 24,5 pada sapi tua. Kisaran panjang dari tuba fallopi yaitu 20-35 cm. Tuba fallopi memiliki garis tengah terkecil tergantung pada jenis ternak,  pertumbuhan serta  kebuntingan.

  • Uterus
            Berdasarkan hasil yang telah diperoleh maka dapat diketahui bahwa uterus terdiri dari cornua uteri dan corpus uteri. Cornua uteri memiliki  bentuk yang menyerupai tanduk, dengan warna yang putih kekuningan atau pucat. Pada sapi betina yang tidak bunting pada Tabel 1, panjang cornua uteri kiri 17 cm dengan diameter 3 cm sedangkan cornua uteri kanan panjang 18 dan diameter 4 cm. Pada sapi betina tidak bunting Pada Tabel 2 cornua uteri kiri panjangnya 14,5 cm dan berdiameter 4. Sedangkan Cornua uteri kanan panjang 14,7 cm dan berdiameter 5. Sedangkan corpus uteri memiliki bentuk yang lonjong dan berwarna putih kekuningan dan coklat tua, ukurannyapun bervariasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1985), yang menyatakan bahwa Uterus memiliki kesamaan antara beberapa ternak lainnya, yaitu berbetuk bicornua (dua tanduk). Pada hewan yang tak bunting uterus berada 25-40 cm ke deapan dari lubang vulva, tepat di depan cervix. Corpus Uteri bergaris tengah transversal 9-12 cm berukuran panjang 2-5 cm dan bagian depan terbagi atas 2 tanduk. Tanduk uterus terletak sangat berdekatan sepanjang 10-15 cm dan tumbuh bersama, maka seakan-akan corpus uteri tampak lebih panjang dari pada kenyataannya. Kadang-kadang tanduk uterus memanjang masuk ke dalam cerviks, sehingga tidak terdapat corpus uteri. Pada tempat dimana kedua tanduk memisahkan diri garis tengahnya 3-4 cm, dari tempat pemisahan panjang tanduk uterus biasanya 20-35 cm, membuat panjang seluruh uterus menjadi 30-55 cm. Panjang uterus beragam sesuai dengan umur hewan dan faktor lain.
            Uterus merupakan organ kebuntingan dan sebagai alat implantasi. Corpus uteri memiliki ukuran yang lebih pendek dibandingkan dengan cornua uteri. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1985) yang menyatakan bahwa uterus sapi terdapat sebagian besar di ruang abdomen. Corpus uterinya sangat pendek (3-4 cm), tetapi mempunyai cornua uteri yang panjang (30-40 cm).

  • Serviks
            Dari hasil pengamatan yang dilakukan maka dapat diketahui bahwa cerviks memiliki bentuk yang membulat seperti cincin dan kadang pula tidak beraturan. Serviks merupakan sambungan dari uterus yang menuju ke vagina. Serviks berfungsi sebagai pintu yang menutup kemungkinan masuknya bakteri ke dalam uterus. Serviks juga menghasilkan mucus atau lendir sebagai pelican. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1986), yang menyatakan bahwa serviks atau leher uterus mengarah ke kaudal menuju ke vagina. Serviks merupakan sphinter otot polos yang kuat, dan tertutup rapat, kecuali pada saat terjadi birahi atau pada saat kelahiran. Cerviks akan mengeluarkan mucus yang mengalir ke vulva. Peningkatan jumlah mucus berguna mencegah masuknya zat-zat yang membawa infeksi dari vagina ke dalam uterus.
            Serviks pada sapi yang tidak bunting pada Tabel 1, panjangnya 5 cm, berdiameter 3 cm. Sapi yang tidak bunting pada Tabel 2, panjangnya 5 dan diameter 8 cm. Hal ini sesuai pendapat Salisbury (1985), yang menyatakan Servix merupakan bagian dari alat reproduksi yang berdinding tebal dengan panjang 5-10 cm dari tempat sambungan dengan uterus ke arah belakang yang berkesinambungan dengan vagina yang berdinding tipis.

  • Vagina
            Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka diketahui bahwa vagina memiliki bentuk seperti tabung (pipa), yang berwarna pucat (putih kekuningan). Ukurannya bervariasi dimana pada sapi yang tidak bunting pad tabel 1 panjangnya 11 cm, berdiameter 10 cm. Pada sapi tidak bunting pada Tabel 2, panjang 19 cm dan diameter 10 cm. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1985), vagina berbentuk tubulus sepanjang 15-20cm, dengan diameter 10-12 cm apabila diregang. Vagina sapi lebih panjang daripada kuda, juga dindingnya lebih tebal. Panjangnya 20-35 cm.
            Vagina merupakan perpanjangan dari cerviks yang berdinding tipis. Vagina berfungsi sebagai organ kopulasi yang menerima penis saat terjadi kopulasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1985), vagina merupakan perpanjangan dari cervix sampai ketempat sambungan uretra dengan saluran alat kelamin adalah bagian yang berdinding tipis. Vagina merupakan bagian dari organ repoduksi merupakan organ kopulasi pertemuan antara organ reproduksi jantan dan betina.
3.      Organ Kelamin Luar

  • Vulva
            Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan, diperoleh bahwa vulva merupakan alat kelamin betina bagian luar yang berada tepat dibawah anus, yang berfungsi sebagai bagian untuk mendeteksi birahi, tempat masuknya penis  serta jalan keluarnya foetus. Vulva memiliki bibir yang disebut labia mayor dan minor. Hal ini sesuai dengan pendapat Marawali dkk. (2010), bahwa  vulva merupakan alat kelamin betina bagian luar. Lubang luar alat reproduksi sapi betina berada tepat dibawah anus. Panjang 12 cm dan mempunyai sudut lebar berbentuk bulat disebelah dorsal dan sudut sempit di sebelah ventral. Pada perkawinan secara alamiah penis masuk ke dalam alat reproduksi betina melewati vulva, dan pada waktu melahirkan anak sapi melewatinya.
  • Klitoris
Dari praktikum yang dilakukan, maka dapat diketahui bahwa clitoris juga bagian organ kelamin luar pada betina yang masih menjadi bagian dari vulva yang mirip dengan penis pada jantan. Dimana letaknya tersembunyi di dalam jaringan vulva dan arcus ischiadicum. Hal ini sesuai dengan pendapat Marawali dkk. (2010), bahwa tepat disebelah dalam di tempat pertemuan bawah bibir vulva terdapat tenunan erectile yang disebut klitoris. Hanya bagian ujung klitoris yang tampak, tetapi kira-kira keseluruhan panjang clitoris kira-kira 10 cm. Klitoris mempunyai persamaan dengan penis hewan jantan yaitu sebagai peransang.

PENUTUP
Kesimpulan
            Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
  1. Organ reproduksi pada betina terbagi atas tiga yaitu organ kelamin primer yaitu ovarium (di dalamnya terdapat folikel dan corpus luteum), saluran reproduksi yaitu oviduct (tuba fallopii), uterus, cervix, dan vagina, serta organ kelamin luar yaitu vulva dan clitoris. 
  2. Ovarium kanan pada Tabel 1 panjangnya 2 cm diameternya 3 cm. Sedangkan Ovarium kiri pada Sapi yang tidak bunting pada Tabel 2. panjang 2,5 cm dan diameter 4 cm sedangkan ovarium kanan panjang 2,4 dan diameter 5,8. Ovarium sebagai organ reproduksi primer berfungsi menghasilkan sel telur dan hormone kelamin betina yaitu estrogen, progesterone.
  3. Oviduct kanan pada sapi betina yang tidak bunting pada Tabel 1.  Panjang 20,5 cm dan diameter 1 cm. Pada sapi betina yang tidak bunting pada Tabel 2,  panjang oviduct kiri 8 cm dan diameter 0,5 cm. sedangkan oviduct kanan Panjang 7,5 dan diameter 0,4 cm. dimana fungsi oviduct sebagai tempat fertilisasi, kapasitasi sperma.
  4. Uterus terdiri atas cornua uterus dan corpus uterus. Corpus uteri Pada Tabel 1 panjangnya 5 cm dan diameternya 4 cm. Sedangkan Corpus uteri pada tabel 2 panjangnya 7 dan diameternya 7,5. Sapi  tergolong uterus bipartitus. Fungsinya sebagai tempat implantasi embrio, transport spermatozoa, menghasilkan cairan uterus yang penting untuk perkembangan emrio sampai lahir.
  5. Cervix Pada Tabel 1 panjangnya 5 cm dan diameternya 3, sedangkan Cervix pada Tabel 2 Panjangnya 5 cm dan diameternya 8, yang berfungsi mencegah kontaminsai mikroba ke uterus, penyimpan semen, transport spermatozoa, dan tempat deposisi semen.
  6. Vagina Pada Tabel 1 panjangnya 11 cm dan diameternya 10 cm, sedangkan Vagina Pada tabel 2 panjangnya 19 cm dan diameternya 10cm, berfungsi sebagai tempat deposisi semen, jalur keluarnya fetus dan plasenta pada kelahiran, dan organ kopulasi.
  7. Vulva berfungsi sebagai tempat untuk mendeteksi birahi, dan tempat keluarnya fetus.
  8. Klitoris berfungsi sebagai tempat untuk merangsang ternak betina pada saat ingin birahi.
DAFTAR PUSTAKA
Aswin. 2009. Anatomi Perkembangan Sistem Uropoetika. http://nemalz88 veterinerblog.blogspot.com/2009/06/i.html. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2010.

Brown. 1992. Buku Teks Histology Veteriner. UI Press, Jakarta

Frandson. 1986. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta.

Iqbal. 2007. Sistem Reproduksi. http://iqbalali.com/biologi/sistem_reproduksi.dtml. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2010.

Nuryadi. 2010. Serviks dan klitoris . http:nongue.gsnu.ac.kr/~cspark/
teaching/chap3.html. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2010.

Marawali dkk. 2010. Ovarium. . http://bubblehousebandryfarm.blogspot.comDiakses pada tanggal 2 Oktober 2010.

Partodiharjo,S. 1980. Ilmu Reproduksi Ternak. Prduksi Mutiara. Jakarta.

Mozez. 2006. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. UI  Press, Jakarta.

Salisbury. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan. UGM Press, Yogyakarta.

Pengertian Pakan, Bahan Pakan, Ransum, Konsentrat dan Zat Additif

Pakan
Pakan adalah semua yang bisa dimakan oleh ternak dan tidak mengganggu kesehtannya. Pada umumnya pengertian pakan (feed) digunakan untuk hewan yang meliputi kuantitatif, kualitatif, kontinuitas serta keseimbangan zat pakan yang terkandung di dalamnya. (Anonim, 2009).

Pakan adalah segaalah sesuatu yang dapat diberikan sebagai sumber energi dan zat-zat gizi, istilah pakan sering diganti dengan bahan baku pakan, pada kenyataanya sering terjadi penyimpangan yang menunjukkan penggunaan kata pakan diganti sebagai bahan baku pakan yang telah diolah menjadi pellet, crumble atau mash. (Anonim a 2008).

Bahan Pakan 

Bahan pakan adalah (bahan makanan ternak) adalah segalah sesuatu yang dapat diberikan kepada ternak baik yang berupa bahan organik maupun anorganik yang sebagian atau semuanya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak.(Anonim, 2009).

Bahan pakan terdiri dari bahan organik dan anorganik. Bahan organik yang terkandung dalam bahan pakan, protein, lemak, serat kasar, bahan ekstrak tanpa nitrogen, sedang bahan anorganik seperti calsium, phospor, magnesium, kalium, natrium. Kandungan bahan organik ini dapat diketahui dengan melakukan analisis proximat dan analisis terhadap vitamin dan mineral untuk masing masing komponen vitamin dan mineral yang terkandung didalam bahan yang dilakukan di laboratorium dengan teknik dan alat yang spesifik. (Anonim a, 2009).

Menurut (Anonim a 2008) bahan dibagi menjadi dua bagian yaitu bahan pakan konvensional dan bahan pakan subtitusi

Bahan pakan konvensional adalah bahan baku yang sering digunakan dalam pakan yang biasanya mempunyai kandungan nutrisi yang cukup (misalnya Protein) dan disukai ternak. Bahan pakan konvensional merupakan bahan makro , serta jagung, bungkil kedelai,gandung,tepung ikan dan bahan lainnya.

Bahan baku yang berasal dari bahan yang belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan dari hasil ikutan industri agro atau peternakan dan perikana. pakan dari kandungan nutrisinya masih memadai untuk diolah menjadi pakan. Bahan pakan ini biasanya berasal dari ikutan industri agro atau peternakan dan perikanan.

Ransum

Ransum adalah pakan jadi yang siap diberikan pada ternak yang disusun dari berbagai jenis bahan pakan yang sudah dihitung (dikalkulasi) sebelumnya berdasarkan kebutuhan industri dan energi yang diperlukan. (Anonim a 2008).

Menurut (Anonim a 2008) berdasarkan bentuknya ransum dibagi menjadi 3 jenis : yaitu mash, pellet,dan crumble

Mash adalah bentuk ransum yang paling sederhana yang merupakan campuran serbuk (tepung) dan granula.

Pellet adalah ransum yang berasal dari berbagai bahan pakan dengan perbandingan komposisi yang telah dihitung dan ditentukan. Bahan tersebut diolah menggunakan mesin pellet (pelletizer) untuk mengurangi loss nurisi dalam bentuk yang lebih utuh.

Ransum berbentuk pellet yang dipecah menjadi 2-3 bagian untuk memperkecil ukurannya agar bisa dimakan ternak. Kelebihan ransum berbentuk pellet adalah distribusi bahan pakan lebih merata sehingga loss nutrisi mudah dicegah dan tidak tercecer pada waktu dikonsumsi ternak.

Konsentrat

Berdasarkan kandungan gizinya, konsentrat dibagi dua golongan yaitu konsentrat sebagai sumber energi dan sebagai sumber protein. Konsentrat sebagai sumber protein apabila kandungan protein lebih dari 18%, Total Digestible Nutrision (TDN) 60%. Ada konsentrat yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Berasal dari hewan mengandung protein lebih dari 47%. Mineral Ca lebih dari 1% dan P lebih dari 1,5% serta kandungan serat kasar dibawah 2,5%. Contohnya : tepung ikan, tepung susu, tepung daging, tepung darah, tepung bulu dan tepung cacing. Berasal dari tumbuhan, kandungan proteinnya dibawah 47%, mineral Ca dibawah 1% dan P dibawah 1,5% serat kasar lebih dari 2,5%. Contohnya : tepung kedelai, tepung biji kapuk, tepung bunga matahari, bungkil wijen, bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit dll. Konsentrat sebagai sumber energi apabila kandungan protein dibawah 18%, TDN 60% dan serat kasarnya lebih dari 10%. Contohnya : dedak, jagung, empok dan polar. (Anonimb 2009).

Zat Additif

Zat additif merupakan zat yang perlu ditambahkan dalam jumlah relative sedikit yang kadangkala diperlukan untuk melengkapi ransum yamg disusun, yang berfungsi sebagai penambah aroma/cita rasa, asam amino/ campuaran asam amino dan vitamin mix. (Anonim, 2009).

Zat additif merupakan suatu bahan atau kombinasi bahan yang biasa digunakan dalam campuran ransum digunakan dalam jumlah sedikit untuk memenuhi

kebutuhan tertentu, misalnya memacu pertumbuhan, meningkatkan kecernaan seperti antibiotik, hormon, probiotik, pewarna, rasa. (Anonim b, 2009).

TUNGAU, CAPLAK , KUTU DAN PINJAL (INDUK SEMANG ANTARA)

Pendahuluan

Seringkali terdapat kerancuan dalam masyarakat untuk menyebut binatang yang kecil, mengganggu manusia dan hewan peliharaan dengan satu sebutan tunggal yaitu kutu. Padahal terdapat kemungkinan bahwa binatang pengganggu tersebut dari kelompok yang berbeda. Kelompok hewan yang sering menimbulkan kerancuan dalam penyebutan adalah tungau (mite), caplak (tick), kutu (lice) dan pinjal (flea). Disini akan dibahas mengenai keempat binatang tersebut sehingga dapat memahami dan membedakannya.


Klasifikasi
Tungau, caplak, kutu dan pinjal tergabung dalam satu filum yang sama yaitu Arthropoda. Tungau dan caplak berada dibawah satu kelas (Arachnida) dan anak kelas yang sama yaitu Acari, namun keduanya tergolong dalam suku yang berbeda.  Caplak termasuk dalam golongan suku Ixodidae dan Argasidae sedangkan suku yang lain disebut tungau saja (Krantz, 1978).

Bagaimana dengan posisi kutu dan pinjal dalam klasifikasi?  Menurut Borror dkk. (1996) kutu dan pinjal termasuk dalam kelas Insekta (serangga) namun berbeda bangsa. Kutu seringkali dibagi menjadi dua bangsa yang terpisah yaitu Mallophaga (kutu penggigit) dan Anoplura (kutu penghisap). Kutu penghisap sering pula disebut “tuma” oleh masyarakat Indonesia. Ahli entomologi dari Inggris, Jerman dan Australia hanya mengenali satu bangsa tunggal yaitu Phthiráptera, dengan empat anak bangsa (salah satunya Anoplura).

Pinjal termasuk dalam bangsa Siphonaptera. Beberapa suku yang terdapat di Indonesia antara lain Pulicidae, Ischnopsyllidae, Hystrichopsyllidae, Pygiopsyllidae, Ceratophyllidae dan Leptosyllidae. Pinjal tikus dan kucing yang umum ditemukan termasuk dalam Pulicidae.

Morfologi

Sama seperti anggota arachnida lainnya (laba-laba, kalajengking dll.), tubuh tungau dan caplak terbagi menjadi dua bagian, yaitu: bagian depan disebut cephalothorax (prosoma) dan bagian belakang tubuh disebut abdomen (ophistosoma).Meskipun demikian, tidak terdapat batas yang jelas diantara dua bagian tubuh tersebut. Tungau dan caplak dewasa mempunyai alat-alat tubuh pada arachnida seperti khelisera dan palpus (alat sensori) yang terdapat di bagian , dan enathosoma/capitulum, dan empat pasang kaki (Kendall, 2008).

Sebagian besar tungau berukuran sangat kecil, memiliki panjang kurang dari 1 mm. Namun ada pula tungau besar yang dapat mencapai panjang 7.000 µm. Pada gnathosoma tungau terdapat epistoma, tritosternum (berfungsi dalam transport cairan tubuh), palpus yang beruas- ruas, khelisera, corniculi, hipostoma berseta yang  masing-masing sangat beragam dalam hal bentuk dan jumlah ruasnya tergantung pada kelompoknya.

 Khelisera pada tungau teradaptasi untuk menusuk, menghisap atau mengunyah. Tubuh dilindungi oleh dorsal shield/scutum. Tungau memiliki stigma (alat pertukaran O2 dan CO2) yang letaknya bervariasi yaitu di punggung dorsal, antara pangkal kaki/ coxa 2 dan 3, di sebelah coxa ke tiga atau diantara khelisera.

Letak stigma menjadi kunci penting untuk membedakan bangsa tungau. Caplak memiliki ukuran lebih besar dari pada tungau. Panjang tubuh dapat mencapai 2.000-30.000 µm. Selain ukurannya, caplak dibedakan dari tungau berdasarkan letak stigma yang berada di bawah coxa (pangkal kaki) ke empat. Caplak juga memiliki karakter-karakter khas tersendiri pada hipostoma memiliki ocelli/mata, tetapi tidak memiliki epistoma, corniculi dan tritosternum. Caplak dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu caplak berkulit keras/ hard tick (Ixodidae) dan caplak berkulit lunak/soft tick (Argasidae) karena tidak memiliki scutum (Krantz, 1978; Evans, 1992).

Hipostoma pada caplak merupakan suatu struktur yang terdiri dari gigi- gigi yang tersusun teratur dan menonjol. Struktur inilah yang digunakan untuk menusuk tubuh induk semang ketika caplak menghisap darah. Hipostoma dilindumgi oleh khelisera (Vredevoe, 1997).  Kutu termasuk anggota kelompok serangga yang mempunyai tiga pasang kaki dan sayap yang mereduksi. Dua kelompok kutu yaitu kutu penghisap/ tuma dan kutu penggigit memiliki ciri-ciri morfologiyang berbeda

Ukuran tubuh kutu penghisap mencapai 0,4-6,5 mm; kepala kutu penghisap biasanya lebih sempit daripada protoraksnya; sungut beruas-ruas; mata mereduksi dan bagian-bagian mulut haustellat. Tuma memiliki tiga stilet penusuk (dorsal, tengah dan ventral) pada bagian mulutnya dan satu rostrum pendek pada ujung anterior kepala.

Dari tempat itu tiga stilet penusuk dijulurkan. Stilet tersebut kira-kira panjangnya sama dengan kepala dan apabila tidak dipakai dapat ditarik masuk ke dalam satu struktur seperti kantung panjang di bawah saluran pencernaan.

Stilet dorsal berfungsi sebagai saluran makanan. Stilet tengah mengandung air liur dan berfungsi sebagai hipofaring, sedangkan stilet ventral sebagai penusuk utama diperkirakan berfungsi sebagai labium. Kaki-kaki kutu penghisap pendek dan memiliki cakar pengait yang termodifikasi untuk melekat pada induk semang. Kutu penggigit bertubuh pipih; berukuran tubuh 2-6 mm; bagian mulut mandibulat; mata majemuk mereduksi; lebar kepala sama atau lebih dengan protoraksnya; tarsi beruas 2-5 dan tidak memiliki cerci (Borror dkk., 1996; Elzinga, 1978).

Pinjal berbentuk tubuh menyerupai biji lamtoro pipih kesamping; berukuran + 3 mm; seluruh tubuh tertutup bulu-bulu; mulut berupa mulut penusuk dan penghisap. Kaki ke tiga dari pinjal berukuran lebih besar dan lebih panjang daripada dua pasang kaki lainnya sehingga memungkinkannya untuk melompat. Lompatannya sangat jauh dan tinggi dibandingkan ukuran tubuhnya (Kadarsan dkk., 1983).

Habitat

Tungau terdapat pada hampir semua habitat. Beberapa tungau tidak membahayakan, hidup pada bahan organik yang mati atau membusuk atau sebagai predator invertebrata kecil lainnya. Sebagian lagi bersifat membahayakan karena hidup sebagai parasit pada tumbuhan, hewan dan bahkan pada manusia.

Caplak adalah ektoparasit penghisap darah pada hewan vertebrata. Contoh caplak berkulit keras di Indonesia adalah caplak sapi (Boophilus microplus), caplak anjing (Rhipicephalus sanguineus), caplak babi (Dermacentor auratus). Contoh tungau ektoparasit antara lain gurem atau sieur (Dermanyssus gallinae) yang menyerang ayam, tungau kudis manusia (Sarcoptes scabiei) tungau ajing (Demodex canis) dll.

 Selain itu adapula yang bersifat endoparasit, misalnya tungau dari suku Rhinonyssidae yang ditemukan pada saluran pernafasan burung (Krantz, 1978 & Kadarsan, 1983).

 Kutu merupakan serangga ektoparasit yang dapat ditemukan pada burung, mamalia dan bahkan manusia. Kutu seringkali ditemukan hanya pada bagian tubuh tertentu induk semangnya. Tuma memakan cairan tubuh termasuk darah.induk semang Contoh tuma antara lain tuma kepala (Pediculus humanus capitis) (dan tuma kerbau (Haematopinus tuberculatus).

Kutu penggigit pada umumnya memakan bulu dan serpihan kulit induk semang. Kutu ini biasanya berkumpul di bagian dada, paha dan sayap unggas. Contoh kutu penggigit adalah Menopon gallinae (Harvey & Yen, 1989; Kadarsan dkk., 1983).

Pinjal ditemukan dekat dengan induk semangnya, baik di rambut, bulu-bulu atau di sarangnya. Pinjal dewasa menghisap darah induk semang. Contoh pinjal adalah pinjal kucing (Ctenophalides felis) dan pinjal tikus (Xenopsylla cheopis)

Siklus hidup

Proses reproduksi pada tungau dan caplak bervariasi. Siklus hidup yang dijalaninya berupa: telur-larva-nimpha-tungau/caplak dewasa. Larva tungau dan caplak hanya memiliki 3 pasang kaki. Larva caplak, setelah makan darah induk semang, akan tumbuh menjadi nimpha yang memiliki 4 pasang kaki.

Nimpha makan darah dan akan tumbuh menjadi caplak dewasa. Setelah makan satu kali sampai kenyang, caplak dewasa betina akan bertelur kemudian ia mati. Caplak betina setelah kenyang menghisap darah dapat membengkak sampai 20-30 kali ukuran semula. Caplak memerlukan + 1 tahun untuk menyelesaikan satu siklus hidup di daerah tropis dan lebih dari satu tahun di daerah lebih dingin.

Caplak dapat bertahan hidup selama berbulan- bulan tanpa makan jika belum mendapatkan induk semangnya. Caplak dapat hidup pada 1-3 induk semang berbeda selama fase pertumbuhannya sehingga dikenal dengan sebutan caplak berinduk semang satu, berinduk semang dua dan berinduk semang tiga (Vredevoe, 1997).

Kutu menjalani proses metamorfosa yang tidak sempurna, yaitu telur-nimpha-individu dewasa. Seluruh siklus hidup terjadi di tubuh induk semang. Telur kutu akan menempel pada rambut induk semang dengan bantuan zat perekat yang dihasilkannya. Sedangkan siklus hidup yang dijalani pinjal merupakan metamorfosa sempurna yaitu telur-larva-pupa-dewasa. Larva yang baru menetas tidak memiliki kaki. Fase pupa adalah fase yang tidak memerlukan makanan (Kadarsan dkk., 1983).

Potensi

Sebagai binatang parasit, tungau, caplak dan pinjal dapat menularkan berbagi macam organism penyebab penyakit Misalnya Ornithodoros (caplak kulit lunak) dapat menularkan larva filaria pada ular phyton dan gerbil. Beberapa organisme dapat bersifat zoonosis yaitu dapat menular dari binatang ke manusia. Organisme pathogen dapat ditularkan melalui air liur, serpihan kulit akibat garukan dan feses (Evans, 1992).

Beberapa penyakit yang ditimbulkan akibat infestasi caplak dan tungau antara lain: scrub thypus, rocky mountain spotted fever, tularemia, Lyme disease (Krantz, 1978). Infestasi pinjal bahkan pernah menyebabkan epidemi pes di daerah Boyolali, Jawa Tengah pada akhir 1960an. Hal ini disebabkan karena pinjal dapat menularkan bakteri Yersinia pestis, penyebab penyakit pes, dari tikus ke manusia (Kadarsan dkk., 1983).

Infestasi kutu pada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat menyebabkan iritasi dan menurunnya kesehatan. Luka garukan (akibat rasa gatal yang ditimbulkan) dapat menyebabkan infeksi sekunder. Serangan gurem pada unggas dapat menyebabkan ayam gelisah karena gatal dan mengakibatkan merosotnya produksi daging dan telur.

Daftar Pustaka

Borror, D. J., C. A. Triplehorn & N. F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Ed. 6. Penerjemah:S. Partosoedjono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  Elzinga, R. J. 1978. Fundamentals of Entomology. Prentice Hall of India Private Ltd. New Delhi.
. Evans, G. O. 1992. Principles of Acarology. Cambridge University Press, UK.
Harvey, M. S & A. L. Yen. 1989. Worms to Wasps, an Illustrated Guide to Australia’s Terrestrial Invertebrates. Oxford University Press.
Kadarsan, S., A. Saim, E. Purwaningsih, H. B. Munaf, I. Budiarti & S. Hartini. 1983. Binatang
Parasit. Lembaga Biologi Nasional-LIPI. Bogor.
Kendall, D. A. 2008. Mites & Ticks in Insect & Other arthropod. www.kendall-bioresearch.co.uk/mite. htm.
Krantz, G. W. 1978. A Manual of Acarology. 2nd ed. Oregon State University Book Store, Inc.Corvalis
Vredevoe, L. 1997. Background Information on the Biology of Ticks.. http://entomology.ucdavis.edu/ faculty/rbkimsey/tickbio.html.